Demokrasi Minyak Tanah

Oleh KRISTIAN SILITONGA

Istilah di atas terlontar di penhujung tahun lalu ketika penulis dengan beberapa rekan menggelar diskusi akhir tahun. Seorang rekan melempar joke politik, “Apa persamaan demokrasi sekarang ini dengan minyak tanah?”

Sejenak, semua tertawa lalu terhenyak. Jawabannya sangat jelas dan sederhana sekali, bahwa saat ini keduanya sama-sama langka dan sukar didapat, cenderung hilang dari peredaran. Bukan karena tidak tersedia, tetapi sedang ‘mengendap’ atau ‘ditimbun’ oleh segelintir orang (elite ) untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Jikapun dapat, harganya terlanjur melambung tinggi dari yang seharusnya.

Pemikir Inggris, James Putzel dan Mick Moore (2000) dalam Thinking Strategically About Politics and Poverty, berpendapat, sistem politik demokratis tidak otomatis berpihak kepada yang miskin. Alasannya, dalam sistem demokrasi yang ditandai kompetisi politik, suara kaum miskin sering tidak terwakili oleh aneka saluran politik yang ada. Juga suara kaum miskin, meski jumlah mereka besar, belum tentu menjadi ‘penentu’ program-program partai politik.
 Saat ini, parpol merupakan satu-satunya saluran rekrutmen kepemimpinan politik karena konstitusi yang ada tidak memberi ruang bagi orang-orang independen untuk mencalonkan diri tanpa dukungan parpol. Untuk itu, parpol sebagai pemegang kunci untuk membangun kepercayaan konstituen harusnya bisa menumbuhkan harapan perubahan.

Namun, realitasnya berbeda. Mayoritas parpol terbukti hanya menyentuh konstituen menjelang pemilu dan pilkada, dengan tujuan pragmatis mengumpulkan suara. Setelah pesta usai, peran parpol seperti hilang begitu saja (persis minyak tanah).

Mempertanyakan kembali orientasi politik partai menjadi penting, melihat dalam sistem multi partai yang berlangsung sekarang ini. Logika kekuasaan dan pragmatisme seolah-olah sudah menjungkir-balikkan hakekat pembentukan parpol itu sendiri. Kekuasaan yang seharusnya dibentuk oleh parpol dengan menggalang dan memelihara konstituennya malah berbalik menjadi hamba kekuasaan itu sendiri, bila perlu berkhianat dan menghindar dari aspirasi arus bawah konstituennya, sebagaimana agen/pengecer, walau tak semua, berkhianat pada fungsi penyaluran dan distribusi atas minyak yang dikuasainya.

Dalam konteks ini, demokrasi menjadi mahal dan sulit dijangkau rakyat kecil. Mereka harus mengeluarkan biaya dan tenaga sendiri untuk memperoleh dan mempertahankan hak-hak politiknya, elite parpol sudah pergi meninggalkan dan asyik bersama elite kekuasaan lainnya.

Apa yang diungkap Eep Saefullah Fatah beberapa waktu lalu menjadi niscaya. Jika di masa Orde Baru kita mengenal politik masa mengambang, maka di era Reformasi ini kita diperhadapkan pada politik partai mengambang, tidak punya visi dan basis kerakyatan yang kuat.

Jangan heran, pertarungan poltik pada era demokrasi padat modal ini hanya berpusar pada segelintir orang yang punya pengaruh, popularitas, jaringan dan dana yang kuat seperti pengusaha, selebritis bahkan pejabat birokrasi dari pusat haingga daerah. Visi dan kemampuan politik bukan menjadi pertimbangan utama lagi, ada uang ada kedudukan.

Pada akhirya, dalam suasana politik biaya tinggi seperti itu, tidak akan banyak tersedia ruang dan waktu untuk peningkatan perbaikan kesejahteraan rakyat. Energi dan pikiran para elite hanya akan tersita di seputar persoalan kepentingan pengembalian biaya politik, ‘balas budi’, dan hubungan saling menguntungkan para pihak itu saja.

Cerita demokrasi minyak tanah ala penulis, terlihat ‘minyak demokrasi’ ditimbun (oplos) di dalam ‘drum-drum’ dan ‘gudang’ kepentingan oleh segelintir elite (agen) untuk menaikkan daya tawar (harga) politik. Mereka mampu melakukan hal itu karena diuntungkan oleh kemampuan dan otoritas atas jaringan dan modal yang dimiliki. Fungsi distribusi dan agegrasi baru dilakukan jika hitungan kepentingan dan keuntungan sudah terpenuhi.

Hal itu akan mengimplikasikan semakin tertutupnya ruang partisipasi politik rakyat kecil dalam kebijakan dan rekruitmen politik, walau mereka memiliki’ kapasitas dan kemampuan untuk itu. Keterbatasan pilihan membuat kita harus sabar untuk ikut antrean panjang dan erdesakan untuk bisa mendapatkan sekedar ‘jatah’ demokrasi yang kita butuhkan.

Agar tidak bosan menunggu, ada baiknya kita sedikit bernostalgia ke masa lalu, ketika para pejuang dan pengecer minyak (dalam ruang dan waktu masing-masing) masih bebas berteriak, “Minyaa..ak (merdeka)! Minyaa..ak (merdeka)??”

Opini ini terbit pertama kali di harian METRO SIANTAR, Koran Kebanggaan Orang Siantar-Simalungun.

Komentar (2) »

Rahasia Hingga Mati

Cerpen Pandapotan MT Siallagan

Aku memutuskan menemuimu, sekaligus menginjakkan kaki di kota impian itu. Yah, bagiku Jogyakarta adalah kota impian. Seperti kau tahu, nyaris pernah kukorbankan masa depan demi hasrat mengembara dan diam di kota itu.
Untung Pematangsiantar kini hadir sebagai pengganti, pengobat hati dan peneduh jiwa. Hawanya yang sejuk membuatku sedikit nyaman meski batuk sering menyerang. Masa Orde Baru, kota ini sangat buas. Jika kau melintas di terminalnya yang sempit, pencopet bernyali baja selalu mengintai dan tak takut menarikmu di hadapan orang-orang. Tas dan dompetmu akan dirampas di keramaian. Tak akan ada yang datang menolong, meski pisau ditempelkan di kulitmu. Orang-orang pura-pura tak melihat, sebab takut diserang komplotan mereka yang juga mengintai dari jauh. Aku pernah diseret dan dipukuli karena melawan, sewaktu remaja.

Tapi kini, Pematangsiantar sudah aman didiami. Barangkali karena rakyat sudah berani membakar kantor polisi. Tapi bukan itu, aku tergetar karena di kota itu aku gagal membakar pabrik penggilingan padi. Aku benci harga gabah ditekan, sementara beras disalurkan dengan harga yang kemudian menjadi tak bisa dibeli petani. Aku tidak tahu kenapa gerakan kawan-kawan malah berganti melempari rumah dan toko milik etnis Tionghoa. Aku masih SMA waktu itu. Polisi tak yakin ada gerakan dan kerusuhan lokal yang digerakkan seorang anak sekolah pasca runtuhnya Orde Baru itu. Aku tak masuk daftar pencarian. Aku lalu kuliah dan menjadi anak baik-baik di Pekanbaru. Lalu pulang sebaik tamat.

Seperti saranmu, dari Cengkareng aku naik taksi ke Stasiun Gambir. Mengambil tiket kereta kelas eksekutif. Tak lama kemudian sudah berada dalam kereta, juga untuk pertama kali. Tak terlalu kuperhatikan gerbong ke berapa ini, tidak di depan dan tidak di belakang. Aku merasa seperti  tikus yang ditelan ular raksasa, tidur sejenak di lambungnya yang tanpa cahaya. Kereta melaju, meninggalkan senja Jakarta. Di dalam kereta, untuk mengatasi hati yang kalut, kubaca ulang surat terakhirmu yang kuprint-out dari email:

Aku tetap mencintaimu. Juga selalu merindukanmu di antara semua peristiwa dan perguliran waktu. Tapi aku harus menahan diri untuk semua ingin kita. Aku mulai takut membayangkan sebuah momen terjadi. Sebuah momen genting yang mungkin memaksaku jujur pada orang-orang terkasih. Aku pasti tak siap untuk kejujuran apa pun tentang kita. Kau tentu masih ingat bekas luka di punggungku. Itu bukan sekedar tanda bahwa aku pernah belajar jadi laki-laki. Memang aku selalu menemani bapak memanen sawit di perkebunan milik Negara di Tanjung Morawa. Hingga siang yang naas itu, pisau egrek tiba-tiba lepas, jatuh mengenai punggungku saat mengumpulkan berondolan dari piringan pokok sawit. Tapi aku beruntung punya tanda itu. Aku bangga pernah terluka sebagai anak buruh. Itu yang kukatakan padamu ketika berkenalan dalam sebuah aksi demonstrasi buruh di Medan.

Andai saja ibu seorang wanita lembut, dia tidak akan mengijikanku mengikut ayah memanen sawit. Sebab di kebun banyak perdu, gulma tempat para ulat dan serangga penyengat berdiam. Setiap saat mereka siap menyakiti dan merusak kulitku. Tapi ada yang tak tuntas kuceritakan. Aku sebenarnya tak lagi punya ibu waktu itu. Wanita cantik yang melahirkanku, pergi bersama asisten kebun yang mungkin bisa mencukupinya secara finansial. Dia tidak tahan hidup bersama bapak yang hanya bekerja sebagai buruh. Bapak hampir membunuh pasangan mesum itu, tapi dihalau oleh orang kampung.

Bapak sangat baik. Meskipun setelah itu dia harus menerima cibiran dan bisik-bisik tentang nasibnya yang malang, dia menjagaku dengan baik. Bapak sebenarnya tak pernah membiarkan aku ikut ke kebun. Katanya tak baik bagi anak gadis. Banyak marabahaya mengintai. Tapi aku selalu ngotot.

Kereta melaju. Malam mulai turun. Jakarta semakin jauh tertinggal. Sejenak kulipat suratmu. Mungkin karena persentuhan luka, lagi-lagi pikiran dan benakku tertawan di Pematangsiantar. Rasa takut masa lalu itu menyergapku di kursi kereta yang menjadi milikku sejauh Jakarta dan Jogyakarta. Kukhawatirkan seseorang telah mengintai sejak dari stasiun, lalu berlagak seperti penumpang, duduk di sampingku, lalu membunuhku. Bukankah setiap orang bebas hilir mudik dan keluar masuk kereta ketika berhenti di setiap stasiun?

Aku tak bisa tidur selama perjalanan. Sesekali pandangku beradu dengan gelap yang menyergap dari balik kaca. Sesekali kereta menyuruk di kawasan berhujan sehingga butir-butir air mengalir di kaca jendela. Ada perih tak terperi, tapi aku bertahan menghempang tangis yang mendesak keluar. Apakah hujan benar-benar mengalir di kaca jendela kereta? Tapi aku tak yakin mampu menangis untuk sebuah takdir yang membuat kita bahagia sekaligus terluka untuk selamanya.

Kubaca lagi suratmu: Aku belajar banyak tentang penindasan di perkebunan. Aku tak pernah bisa lupa kepada seorang lelaki tua yang juga bekerja sebagai buruh panen. Lelaki tua itu sangat menyayangiku, sama seperti bapak. Tapi bapak tak banyak mengeluh, beda dengan lelaki tua yang hampir setiap hari selalu cerewet. Dia marah kepada mandor-mandor kebun yang suka berlaku kasar, memotong premi dengan sejumlah alasan tak masuk akal. Dia juga kerap menghitung-hitung laba PTPN, lalu membandingkannya dengan gaji buruh. Menurutnya, keringat buruh dan tanah diperas Negara, sebenarnya tak sejalan dengan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat. Itu hanya untuk memperkaya para direksi. Kelak, ingatan akan masa kanak-kanak itu membuatku gila dan bergabung bersama teman-teman aktivis buruh, seperti kau tahu. Bapak akhirnya menikah dengan putri lelaki tua itu dan dia menjadi kakekku. Sama dengan kakek, ibu juga cerewet, tapi untuk hal-hal yang tidak baik.

Kau tahu kan betapa sayang aku pada ibu. Aku bahkan tak menyangka, setelah hidup bersama ibu, bapak makin giat bekerja. Beberapa tahun kemudian, bapak berhasil membawa kami keluar dari kebun dan berdagang secara kecil-kecilan di Medan. Itulah awal kisah sukses usaha roti yang kini dikelola adikku yang lahir kemudian.

Kau tahu, bapak sudah menninggal setahun lalu. Maaf, aku tak sempat mengenalkanmu kepadanya. Tapi aku bangga punya bapak seperti dia. Kau tahu, aku sebenarnya tak ingat apa-apa soal kisah itu, karena aku masih berumur 3 tahun ketika ibu pergi dengan asisten kebun itu. Bapak menceritakan itu sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhir. Yang kumaksud dengan momen genting itu adalah peristiwa ketika bapak bercerita tentang sejarah itu.
Sungguh, aku takut sesuatu terjadi dan mulutku menceritakan hubungan kita yang sudah di luar batas. Adakalanya rasa bersalah mampu mendorong seseorang mengakui aib, justru di depan orang-orang yang kepadanya aib itu tak bisa dibuka. Aku tidak lagi aktif menggerakkan buruh. Aku sudah lelah.

Semua peristiwa tentang kita, penting atau tidak, berlintasan dalam kepalaku, seperti juga kecamuk tanya seberapa penting sebenarnya kita bertemu. Sebab kita tahu, setelahnya pasti yang tersisa hanya kangen dan rindu yang tidak setiap saat bisa diobati. Yah, tak ada lagi angan yang bisa jadi milik kita dengan utuh. Jantungku bergetar. Seperti apa wajahmu setelah tahun-tahun perpisahan itu?

Tapi akhirnya subuh datang juga. Aku lega, terbebas dari tawanan perjalanan melelahkan. Jogyakarta ternyata tak sejauh yang disuarakan rindu. Kau berada depanku. Kita saling tertawa. Tak ada debar seperti yang kurasakan selama perjalanan. Kau hanya mencubit perutku. Aku menowel pipimu. Kuamati, kulitmu sedikit memutih dan badanmu agak gemuk. Kau tampak makin tua. Hampir tak ada komunikasi selain pertanyaan apa kabar dan jabat tangan singkat.

Lalu taksi menelan tubuh kita, hanya sesaat, sebab setelah meluncur beberapa menit, kita dimuntahkannya di sebuah hotel yang sebelumnya telah kau pesan. Seperti biasa, supir taksi hanya membutuhkan ongkos dari kita, tanpa perlu tahu untuk apa kita ke hotel itu, apalagi hari masih subuh. Dia diam saja, sama seperti  kita yang hanya diam selama dalam taksi. Hanya nafas yang menghela berkali-kali, seolah ada benda menyakitkan yang harus dihempaskan dari dada. Dan kamar hotel akhirnya membiarkan segalanya terjadi.

Tak terlalu lama. Aku menyelesaikannya persis ketika kau menangis dan mengatakan bahwa hal itu tak seharusnya terjadi. Tubuhmu kejang dengan kedua tanganmu memegang kepala dan mencoba menghantukkannya ke dinding.
“Aku teringat bapak dan cintanya yang tanpa batas. Juga ibu yang hingga kini tetap mengesankan dengan kelembutannya. Katakan, apakah aku perempuan baik-baik?” katamu dengan tatap kosong. Aku  hanya diam. Kuusap airmatamu dengan lembut, sekedar menguatkan bahwa cintalah takdir kita.

Setelah itu, aku mungkin tertidur. Di luar, cuaca subuh bergentayangan bersama arwah-arwah yang tertunduk lesu menyalahkan Tuhan, menapaki puing kehancuran gempa yang meruntuhkan dan mencabut ribuan nyawa itu. Jogyakarta tak seindah khayal. Kuingin penuh pohon-pohon tempat semua orang berlindung dari panas dan penderitaan. Lalu suatu senja, di bawah pohon rindang, aku duduk beralaskan daun sambil membaca puisi. Seorang wanita tua melintas dan terkejut melihatku. “Datang juga kau,” katanya.

Aku tersentak. Kau bertanya kenapa kita banyak diam setiap kali bertemu. Kukatakan kita tidak diam. Hanya saja kita bicara dengan jiwa. Bicara tentang semua ketidakmungkinan mimpi dan harapan. Bicara dalam diam tentang semua luka dan keabadian yang menurutmu harus kita yakini benar-benar ada. Keabadian yang membuatmu datang senja itu, saat aku benar-benar tak ingin bicara tentang pernikahan, tiga tahun lalu. Hujan jatuh. Kau menggigil dalam dingin. Handuk kuberikan. Kau berganti pakaian di hadapanku. Tanpa sungkan. Kulit perutmu tipis. Ada luka di punggungmu. Senja habis. Hujan turun. Segalanya terjadi. Aku tatap matamu lekat.
“Kenapa kau tidak cerita?”
“Tak perlu. Kalian tak adil, selalu menuntut perempuan virgin?” katamu.

Kau menangis. Aku diam. Itu untuk pertama kali kita melakukannya. Lalu selalu mencuri waktu untuk bertemu. Hubungan kita makin dalam. Aku hampir tak bisa lepas dari ingatan tentangmu. Ketika aku mengunjungimu di Medan, kita sempat memutuskan untuk menikah. Tapi kukatakan perlu waktu buat kita untuk memutuskan itu. Kau mengantarku ke stasiun bus. Kau menangis ketika bus yang kutumpangi berangkat. Tak lama kemudian kau memberi kabar bahwa kau sudah di Jogyakarta.

Setelah diam yang agak panjang, kita bersetubuh lagi.

“Aku mencintaimu. Anak-anakku sudah besar. Suamiku juga tetap baik.”
“Inilah takdir kita. Istriku makin sering bersekutu dengan anak-anak melawanku.”
“Ini harus menjadi rahasia kita sampai mati. Jangan sampai keluar dari mata, biarkan pecah di perut.”

Pematangsiantar, Juli 2007

Komentar (6) »

Cintaku Membara di Televisi

Cerpen Pandapotan MT Siallagan

Sebelumnya, kau tidak pernah menangis di depan televisi. Tapi ketika suatu hari kau menyaksikan seorang lelaki yang kau kenal muncul di televisi, kau menangis. Benar-benar menangis.
Sudah sangat lama kau berpisah dengan lelaki itu. Kau ingat bahwa kepergiannya membuatmu terluka. Dan sangat sedih. Hari-hari sesudah kepergiannya adalah rentangan sunyi. Kau telah begitu tersiksa menjalaninya.
Ketika pergi, lelaki itu tidak memberitahumu ke mana arah tujuannya. Dia hanya berjanji bahwa dia akan kembali. Masih jelas terekam di benakmu ketika dia berlalu, melenggang dengan berat, seolah ada banyak hal yang harus disepakati ulang tentang cinta kalian. Kau sedih sekali, tapi sebagai gadis cerdas, kau berusaha tegar. Kau katakan kepadanya bahwa kau mengantarnya dengan doa, dengan cinta dan kesetiaan. “Aku akan menunggumu. Wujudkanlah cita-citamu,” katamu dengan suara yang dibungkus pilu.
Setiba di rumah, kau menangis di kamar. Kau lupa bahwa kau adalah perempuan yang benci sikap cengeng. Kau lupa bahwa seharusnya kau bisa lebih tenang. Lalu kau himpun lagi segala peristiwa dalam ingatanmu. Kau ingat betapa mesra kalian pada suatu masa, bergandeng tangan menyusuri jalan-jalan kota. Kalian saling bercerita, saling berbagi bahagia, juga berbagi sedih. Kau ingat lagi tangismu saat pipimu diciumnya. Tangisan ganjil yang entah mengapa selalu hambur dari mulut perempuan setiap menerima ciuman lelaki untuk pertama kali.
Kau ingat semuanya, juga hari-hari sesudahnya. Kau selalu menemaninya ke kantor pos setiap kali dia mengirim surat kepada ayah bundanya. Di kampung kami belum ada jaringan telepon, surat adalah satu-satunya alat komunikasi, katanya kepadamu. Dan kau mendapatkan kesadaran baru sejak itu. Kau tahu akhirnya bahwa surat adalah media komunikasi paling indah. Di dalamnya, sangat mungkin bagi siapa saja menulis kata-kata mesra, kalimat-kalimat indah, bahasa-bahasa menyentuh, yang barangkali akan terdengar aneh jika disampaikan dalam bahasa lisan. Itulah sebabnya pada saat-saat terakhir kepergiannya, kalian berjanji akan saling berkirim surat satu sama lain. Kalian memutuskan bahwa kalian hanya akan berhubungan lewat surat.
“Setelah sampai, akan segera kutulis surat untukmu, sekaligus memberitahu alamatku di tempat yang baru,” katanya.
Dua minggu kemudian, suratnya datang. Kau bahagia sekali menerimanya. Kau ciumi surat itu berkali-kali sebelum kau baca berkali-kali. Setelah itu, hampir setiap bulan kau mengiriminya surat. Hampir dalam setiap surat kau katakan bahwa kau tetap mencintainya, mendoakan dan mendukung setiap pekerjaan dan rencana-rencananya. Hampir dalam setiap surat kau berkata bahwa kau tetap menunggunya, bersetia hanya untuk lelaki itu.
Tapi kau kecewa dan terluka karena akhirnya dia tidak pernah membalas suratmu. Surat terakhirmu padanya adalah surat yang ke tigapuluh dua. Lalu kau coba melupakannya. Kau tenggelamkan dirimu dalam kegilaan-kegilaan, sibuk merancang dan melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang bagus. Kau berkumpul bersama teman-temanmu, pergi menghadiri undangan-undangan pesta, ngalor-ngidul sekedar mengurangi luka. Kau ajak teman-temanmu memancing, berkemah di hutan-hutan, dan sesekali mabuk-mabukan. Kau sebetulnya tahu bahwa tindakan itu sangat salah. Kau tahu bahwa sebaiknya kau berpikir dan berbuat untuk masa depanmu. Tapi, kau benar-benar tidak bisa menerima perlakuan kekasihmu itu, ingatanmu padanya terlalu menyiksa, dan kau melakukan semua itu sekedar bisa melupakannya, meskipun hanya sekejap. Tapi semua itu tak bisa membuatmu tenteram. Selalu terbayang olehmu penampilannya yang sederhana, sikapnya yang santun, bicaranya yang lembut, dan tentu saja otaknya yang cerdas.
Dulu, kau selalu menemaninya ke perpustakaan, mencari buku-buku yang kalian butuhkan, berdiskusi, dan itu mambuatmu selamat dari bahaya kebodohan karena sebelumnya kau adalah gadis pemalas, gadis yang sama sekali tidak memiliki minat baca. Bersamanya, kau akhirnya tahu bahwa belajar itu sangat menyenangkan.
Setelah selesai berdiskusi dan belajar bersama, kau biasanya mengajaknya ke kantin, makan bersama. Tapi dia selalu menolak jika kau membayar makanannya. Dia juga selalu tak bersedia naik ke mobilmu jika kau menawarkan mengantarnya pulang. Dia selalu memilih naik oplet jika ingin pulang ke rumah sewaannya. Tapi kau tidak pernah tersinggung. Dia cukup tahu bagaimana memberi penjelasan yang nyaman atas penolakannya. Dan semua itu membuatmu terpesona, makin cinta kepadanya.
Makin sempurna kemudian kegilaanmu padanya ketika suatu hari kau mendengarnya bernyanyi. Kau takjub pada keindahan suaranya. Sejak itu, kau seringkali memintanya bernyanyi, dan dia selalu memenuhi permintaanmu. Selain membaca, menyanyi memang sudah menjadi hobinya sejak kanak-kanak.
Sekarang, setiap kali suaranya terngiang di telingamu, ingatanmu padanya kian menerkam. Kau ingat lagi kebaikan-kebaikannya, nasehat-nasehat yang membuatmu makin dewasa. Dia memang selalu menyokong, mendukung dan tidak pernah memuatmu sakit hati. Pernah suatu kali kau membuatnya terluka ketika kalian bertengkar kecil, lalu kau bangga-banggakan kekayaan orangtuamu.
Tapi dia hanya tersenyum, tidak tersinggung. Dia bahkan menyarankanmu agar selalu bersyukur kepada Tuhan. Sungguh, kau tidak pernah menyangka bahwa dia akan melupakanmu. Benar-benar tidak kau duga. Ketika suratmu yang ke limabelas tidak mendapat balas, kau mulai sakit hati, marah, kecewa dan berhasrat sekali mencarinya. Dan jika ketemu, kau akan menampar wajahnya sekuat yang kau mau. Tapi kebencian itu selalu terkalahkan oleh ingatanmu pada senyumnya, kebaikan-kebaikan dan kelembutannya yang tanpa batas. Jauh di dalam hatimu, kau masih berharap semoga kalian dapat bertemu lagi dan kau akan mendekapnya dan berkata bahwa kau sangat merindukannya.
Setelah cukup lama, kau memang berhasil melupakannya walau hanya sesekali, saat bergabung dengan teman-temanmu sepengangguran. Kau juga sudah mulai berteman dengan banyak lelaki yang kau tahu sangat damba pada cintamu. Dan akhirnya, di tengah kehancuran menanti, kau memilih salah seorang dari lelaki-lelaki itu. Tapi kau tidak pernah benar-benar yakin mencintainya, meski selalu berusaha mencintanya. Oleh sebab itu, setiap kali lelaki itu bicara kepadamu tentang pernikahan, kau selalu mengelak. Kau masih terus berharap semoga kekasihmu itu kembali lagi.
Seiring waktu, kau memang tidak terlalu sedih lagi walaupun setiap saat masih teringat kepadanya. Kau ingat bagaimana dia sangat kikuk ketika kau mengajaknya ke rumahmu, yang dikatakannya seperti istana. Kau ingat bagaimana canggung dan gugupnya dia menghadapi ibumu yang menyerbunya dengan banyak pertanyaan. Kau ingat bagaimana lucu mimiknya membanding-bandingkan rumahnya dan rumahmu.
Rumahku di kampung persis seperti kandang kuda, katanya tertawa. Mengingat semua itu, kau tersenyum. Lalu setelah senyum yang jenak itu, dadamu terhantam lagi karena kau berpikir bagaimana keadaannya saat ini, dan di mana dia berada. Dan setiap kali kau bertanya dalam hati apakah dia masih sendiri atau sudah menikah, kau pasti ambruk, dadamu serasa terbakar, jantungmu remuk. Kau tak mampu membayangkannya hidup bersama perempuan lain. Kau tidak rela kebaikan dan kelembutannya menjadi milik perempuan lain. Kau menangis lagi. Benar-benar menangis.
Kau lupa, seandainya dia melihatmu menangis, dia akan mengejekmu habis-habisan. Dulu, dia sering menangis di hadapanmu, bukan karena kau sakiti, tapi karena sedih memikirkan orangtua, nasib adik-adiknya. Kau memang berjanji untuk membantu mereka jika kelak kalian sudah menikah, tapi dia selalu berkata bahwa Tuhan akan mengatur segalanya. Dia juga sering menangis saat menonton tayangan-tayangan sedih di televisi. Jika berhadapan dengan berita pemerkosaan, pembunuhan, perampokan, kerusuhan, dia akan menangis seolah-olah korban itu adalah saudaranya. Dia juga sering menangis jika sinetron dan film-film menghadirkan adegan sedih. Dan kau selalu mengejeknya, menuduhnya tidak rasional, terlalu sentimentil dan perasa. Tapi dia menanggapi ejekanmu dengan senyuman, dan berkata: “Adakalanya kau belajar memahami perasaan. Perasaan adalah kehidupan itu sendiri.”
Kau mengiyakan, tapi tetap tidak setuju dengan sikap seseorang yang menangis di depan televisi. Kau berkata bahwa apa-apa yang dihadirkan televisi adalah dusta,  kebohongan-kebohongan yang secara menakjubkan dikirim ke rumah-rumah. Dan kau bersumpah tidak akan pernah menangis di depan televisi.
Lalu hari itu pun tiba. Kau menangis di depan televisi. Benar-benar menangis. Kau saksikan lelaki terkasihmu itu muncul di televisi. Tampil sebagai salah satu peserta kontes nyanyi. Kau nyaris pingsan, tapi segera menata pikiran. Kau pelototi lagi televisi untuk memastikan apakah benar dia kekasihmu. Dan benar, dia memang kekasihmu.
Tubuhmu gemetar, persendian tulang-tulangmu terasa panas, jantungmu berdegup kencang, pikiranmu kacau, panik, sedih, bahagia, marah, kesal, semuanya berbaur mencabik-cabik jiwamu. Kau ingat lagi detik-detik terakhir perpisahan kalian.
“Dik, aku mencintaimu. Tapi aku harus pergi. Aku harus berjuang menata hidupku. Kelak, jika aku sudah berhasil, aku akan datang menikahimu. Aku tahu Adik bisa menghidupiku. Apa sih yang tidak bisa diberikan ayahmu sama kau? Tapi aku harus menunjukkan kepada orangtuamu bahwa aku adalah lelaki yang tepat buatmu. Adik jangan sedih, ya! Aku pasti pulang untukmu.”
Dan sekarang, kau menyaksikan kekasihmu itu muncul di televisi. Kau melihatnya dipuja jutaan orang, disoraki dengan begitu meriah, orang-orang histeris karenanya. Kau tahu dia akan terkenal. Kau tahu dia sudah menjadi milik banyak orang. Harapanmu tumpas. Impianmu memilikinya terputus. Kau merasa bahwa dia bukan milikmu lagi. Dia sudah milik orang lain. Kau hanya bisa menangis.
Kau kalap. Kau putuskan untuk menikah dengan Van Emte Eseljien, pacarmu yang tidak pernah benar-benar kau cintai itu. Kau merasa hanya dialah satu-satunya orang yang bisa menyelamatkanmu. Setelah segalanya dibicarakan, diatur, direncanakan dan diputuskan, hari dan tanggal pernikahanmu ditetapkan. Kau menangis pada hari pernikahan itu.
Tapi kau tidak tahu, di sebuah tempat yang jauh, lelaki itu telah bersiap menemuimu. Segera sesudah kontes nyanyi itu berakhir, dia sudah berjanji untuk datang. Setelah kedua orangtuanya, kaulah orang pertama yang akan ditemuinya. Lelaki akan menikahimu. Tapi kau benar-benar tidak tahu.

Pematangsiantar, 2007
 

Komentar (4) »

Resah Itu Berujung Juga

Cerpen Pandapotan MT Siallagan

 

 

Akhirnya, berujung juga gelisah itu. Pukul 06.00 WIB, SMS itu tiba. Getar ponsel seperti sengat listrik di kepala. Dadaku sesak, juga lega. Dengan hati kosong, kukemas pakaian ke dalam tas. Hanya beberapa potong. Lalu berlari kecil ke kamar mandi mengambil sikat dan pasti gigi. Memungut ponsel dari atas meja. Memakai sepatu. Keluar dari rumah. Memanggil  taksi. Berangkat pukul 09.00 WIB dari Bandara Hang Nadim Batam. Tiba di Bandara Polonia Medan pukul 10.00 WIB. Menyewa taksi. Pukul 13.00 WIB pasti tiba di kampung.

 

Belum begitu lama sebenarnya. Masih empat bulan. Tapi aku tahu peristiwa itu telah menghabiskan seluruh kebahagiaan dan  harapan bapak. Semua berawal dari sebuah Minggu pagi yang berhujan di bulan Maret. Aku pulang disambut hangat. Seekor ayam dipotong. Ngobrol usai makan. Dan selalu aku disuguhi sejarah pedih perjalanan keluarga, yang harus kupedomani. Ibu, adakah sejarah orang kampung menyerlah bagai cahaya. Semua menderita, bukan?

 

Tiba-tiba, “Sudah Maret. Juli kan rencanamu dengan Aida? Bagaimana kabarnya dia? Harus disiapkan matang-matang. Bapak dan ibu memang tak ada uang, tapi akan berusaha untuk itu. Cari pinjaman sana sini kan masih bisa. Tak mundur lagi rencana kalian, kan?”

 

Ibu sepertinya tak siap mendengar kalau rencana itu gagal, seperti telah terjadi berkali-kali hanya karena ketiadaan biaya. Bapak hanya diam. Dan sedikit terbatuk untuk sisa sakit paru yang dideritanya sejak lama. Bapak sendiri telah bersusah payah dengan segala tenaga, tapi hasil dari kebun kakao kadang tersedot untuk biaya perobatannya yang tak sedikit selama beberapa tahun terakhir.

Ibu, sepertinya kita harus bersabar lagi.”

“Maksudmu. Apa kau membawa kabar buruk lagi?” Bapak yang bertanya.

“Bapak, mungkin belum rezeki. Bapaknya gagal memahami kita. Mereka minta sinamot* Rp 50 Juta. Jadi aku sudah berencana meninggalkan Siantar. Aku akan Batam. Banyak teman yang bisa membantu memberikan pekerjaan lebih layak di sana. Mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama, bisa kupenuhi permintaan mereka. Bapak setuju?”

 

Bapak diam. Tertunduk. Tangannya agak gemetar meraih gelas berisi jamu di hadapannya. Di sampingnya ibu menatapku dengan mata kosong. Juga meraih gelas berisi air putih hangat di  depannya, meneguknya dengan tenang. “Ya sudah, tak usah kau sedih karenanya. Cuma…sudah 7 tahun kalian berteman. Apa harus sesedih ini akhirnya?” berat suara ibu.

“Orang kecil itu memang susah. Dia ini yang tak tahu diri. Kau pikir gampang cari istri orang kaya. Coba kalau dulu kau mau dengan paribanmu itu.” Bapak mengarahkan telunjuknya ke pelipisku.

Perdebatan malam itu berakhir. Ibu beranjak ke kamar. Sebelum tidur, ditembangkannya 2 judul kidung jemaat yang sudah dihapalnya. Aku tahu dia sedih dan menangis. Bapak membaca di ruang tengah, sesekali terbatuk. Aku merenung di dapur.  Menetes airmata. Sudah lama ternyata aku tak pernah menangis. Aku benar-benar sedih malam itu.

 

Tiga hari kemudian, aku benar-benar pergi. Bapak agak kaku, tapi ibu melepas kepergian itu dengan sesunggukan. Ah, setua itu mereka harus menderita untuk ketidakpastian hidupku. Dan Aida, perempuan yang selama 7 tahun mengaku mencintaiku,  selalu yakin bahwa dia benar dengan semua ukuran dan variabel hidup yang ditentukannya. Dia membiarkan aku pergi tanpa bertanya dan berkata apa pun tentang rencana pernikahan yang gagal hanya karena angka. “Pergilah, tunjukkan kalau kau bisa,” katanya.

 

Tertikam duri rasa jantungku mendengar ucapan itu. Sama sakitnya ketika dia jatuh cinta pada rekan kerjanya dan bercerita betapa hebat laki-laki itu. Wajah bersih. Mobil bagus. Gaji besar. Lalu memvonis aku sebagai laki-laki bodoh dan pemalas. Dia lupa bahwa perusahaan kecil kelas kacang pun pernah menolaknya karena dinilai kurang punya kapasitas. Dia lupa bahwa dia bisa kerja di BUMN bonafid itu hanya karena bapaknya berteman dengan direktur utama. Tentang bapaknya, ada peristiwa yang membuatku sedih. Bapaknya pernah ingin mengirimnya ke Colorado, Amerika. Di sana telah menanti seorang lelaki yang siap menikahinya.

 

Kini aku berada di dalam taksi yang meluncur cepat. Hampir menetes juga airmataku. Tapi kutahan, kuraih bungkus rokok dan aku merokok. Kuisap rokok dalam-dalam sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Gelisah kayaknya, Bung. Apa buru-buru, biar kita tambahi kecepatan,” kata si Supir taksi.

“Oh tidak. Santai aja. Aku juga perlu menata hatiku. Aku sesak. Bapakku akhirnya meninggal subuh tadi.”

“Oh maaf…”

“Tak apa. Semua orang akan kehilangan.”

 

Taksi menderu.

Angin berhembus kencang dari kaca yang sedikit terbuka.

Aku dan supir taksi diam hingga akhirnya aku tiba di kampung.

 

Tapi diam itu akhirnya meledak ketika tangis ibu, juga saudara-saudara yang lain, meledak sebaik aku tiba. Tapi jenazah ayah terbujur dengan tenang. Kuhidupkan rokok sekedar menenangkan hati yang berkecamuk.

 

Teringat aku pada Aida. Aku tak tahu apakah dia akan bersedih dengan kepergian bapak. Tapi kuputuskan untuk tak memberitahu. Setelah pemakaman berakhir, aku cukup menemuinya dan mengatakan bahwa bapak sudah pergi dan tak ada lagi orang yang benar-benar rindu melihatku menikah.

“Akhirnya tak ada lagi yang perlu diresahkan,” aku akan berkata begitu.

“Maksudmu?”

“Bapak sudah meninggal.”

 

Dia mungkin akan tercekat dan memohon maaf untuk semua ketidakpeduliannya. Tapi kukatakan aku sudah capek bersedih. Kutinggalkan dia dan kukatakan aku tidak akan kembali lagi. Aku benar-benar sangat sedih dan tak ingat apa-apa. Ketika siuman, pemakaman sudah berakhir. Kudengar orang-orang mencibir tentang bapak. Bahwa satu-satunya keinginan bapak di sisa hidunya yang terus didera penyakit adalah menikahkanku.

 

“Tapi gara-gara sinamot, tak ditunggunya lagi anaknya itu. Manalah memang dia sangdup memberikan 50 juta.”

 

Aku hanya diam mendengarkan cibiran itu. Kulihat Aida ada dalam rombongan keluarga sepulang dari pemakaman. Aku makin sedih. Aku sesungguhnya sangat mencintainya. Mungkin juga dia.

 

Pematangsiantar, 2007

   

Komentar (5) »

Walikota atau Gubernur Siantar?

(Catatan Politik Kristian Silitonga)

 

 

Rencana Wali Kota Pematangsiantar Ir RE Siahaan untuk mencalonkan diri menjadi salah seorang calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008, menjadi perbincangan menarik di Siantar sekitarnya belakangan ini. Aneka pendapat baik yang mendukung maupun yang kurang mendukung atau kelompok yang tidak peduli sama sekali, berbaur menjadi wacana publik yang menarik untuk disimak. Catatan apa yang bisa kita ajukan terhadap rencana pencalonan itu? Realistiskah memberi harapan dan beban dukungan yang tinggi?

 

Tentu hak politik seorang RE Siahaan yang sedang menjabat Wali Kota untuk ikut mencalonkan dirinya jadi gubernur. Tidak seorang pun yang berhak menghalangi itu. Dia mempunyai kekuasaan, keuntungan posisional dan jaringan pendukung untuk mencapai ambisi politiknya. Bahkan, Wakil Wali Kota dan Ketua DPRD Siantar pun tidak berhak menghalangi niatan itu. Juga parpol-parpol, tokoh masyarakat, kelompok dan elemen masyarakat, opini publik, apalagi warga masyarakat biasa. Barangkali, atas pemahaman itu, saat ini warga kota mulai dari elit politik, pejabat publik, kelompok kepentingan hingga warga biasa, berlomba-lomba menyatakan dukungan politik atas pencalonan itu. Mau menang atau kalah, mau jatuh atau berdiri, mau serius atau tidak, pokoknya dukung terus. Bah!

 

Percayalah, toh kelak yang menanggung akibat dan bertanggung jawab berhasil tidaknya ambisi itu adalah RE Siahaan seorang. ‘Hal itu kan sudah jadi resiko politik, yang penting usaha’ hanya itu jawaban yang kemudian tersedia. Pada titik inilah perlunya pandangan kritis kita kemukakan. Sungguhkah rencana pencalonan ini berangkat dari suatu desain politik matang yang digagas Wali Kota dan tim pendukungnya? Sudah adakah perhitungan dan kalkulasi politis terhadap rencana pencalonan dan implikasi politis yang menyertainya terhadap penyelenggaraan pemerintahan dan birokrasi serta pengambilan kebijakan publik bagi kota ini?

 

Sejauh ini belum terungkap motivasi dasar yang kuat melatarbelakangi pencalonan itu kecuali sekedar pengentasan hasrat dan ambisi politik belaka. Satu-satunya penilaian objektif yang dapat kita mabil terhadap rencana pencalonan itu, tentu dengan mengembalikan penilaiannya terhadap kinerja dan kepemimpinan beliau selama memimpin kota ini.

Dalam kapasitasnya sebagai Wali Kota, RE Siahaan harus sadar bahwa keinginan politiknya itu akan diukur dengan sejauh mana dia serius memimpin kota ini. Ibarat sebuah cermin, keseriusan untuk menjadi Gubsu akan dipantulkan kembali dengan seserius apa RE Siahaan menjadi Wali Kota.

 

Pertanyaan-pertanyaan relevan yang akan muncul tentu seputar sudah sejauh mana kepemimpinannya berhasil dalam membangun, membenahi dan menyelenggarakan pemerintahan kota ini selama hampir dua tahun menjalani tugasnya? Sudahkah semua terlaksana dengan baik sesuai dengan visi dan misinya? Apakah Siantar IDAMAN sudah terwujud, atau cuma sekedar slogan pemerintahan an-sich? Juga aneka pertanyaan lain tentunya.

 

Dalam kerangka objektif itulah selayaknya sikap dan dukungan kita tempatkan. Bukan sekedar pada statemen para elit dan politisi kota ini, penggalangan sikap dukungan lembaga dan kelompok-kelompok kepentingan, atau pagelaran puluhan meter spanduk dengan jutaan tanda tangan (jutaan yang mana?) dan aneka bentuk dukungan lainnya yang, maaf, kok terasa usang, semu dan terkadang menggelikan.

Okelah, agar lebih fair, jika memang sebagian besar warga kota ini sudah bersepakat dan berkeyakinan bahwa RE Siahaan dalam rentang waktu hampir dua tahun ini telah sukses dan berhasil meminpin dan membangun kota ini, bukankah dari sudut pandang itu, itu berarti secara sosial kita berkepentingan untuk meminta beliau tetap memimpin kota ini?

 

Paling tidak, sampai akhir masa jabatannya. Bukankah menjadi penting untuk mengingatkan RE Siahaan untuk tidak buru-buru dan tergesa-gesa meninggalkan gagasan pembangunan yang baru dimulainya, tapi justru harus dituntaskan? Dengan kata lain, kita semua warga kota ini masis membutuhkan dedikasi dan kepemimpinan beliau sebagai salah satu asset penting dan modal sosial kita.

 

Kalaupun kepentingan politik tentang pencalonan itu harus tetap dijalankan, Wali Kota harusnya justru lebih fokus dalam menjalankan kebijakan-kebijakan pemerintahan melalui implementasi program-program yang berorientasi dan mengabdi pada peningkatan dan pemenuhan kualitas kesejahteraan masyarakat kota ini. Juga penanggulangan dan pemecahan masalah-masalah public, optimalisasi kinerja birokrasi dan aparatur pemerintahan kota ini dalam rangka peningkatan pelayanan publik.

 

Jika itu semua berjalan dengan baik, saya berpendapat, itu lebih bisa menjadi kampanye yang hidup (living strategy) daripada semua penggalangan sikap dan dukungan semu di atas. Dalam perspektif ini, keinginan dan ambisi politik untuk mencalonkan diri menjadi Gubsu, hanya menjadi soal waktu (momentum) yang tepat saja. Sederhana bukan?

 

Bayangkan, jika saja Wali Kota dengan pemerintahannya yang lebih terfokus itu mampu dan berhasil meningkatkan kesejahteraan warga kota dan sekitarnya, toh menjadi tidak begitu penting lagi RE Siahaan terlepas jadi Gubernur Sumut atau atau tidak. Bagi kita semua, Saudara RE Siahaan tetaplah menjadi seorang Guberbur Siantar, eh maaf, maksud saya Wali Kota Siantar!!

 

Penulis adalah Peneliti pada CIIS

Tinggal di Siantar

Tiada komentar »

Jangan Larang Rakyat Bicara Illegal Logging

OLeh Pandapotan MT Siallagan

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah akan berkunjung ke Bosar Maligas, Kecamatan Hutabayuraja, Kabupaten Simalungun, tapi gagal. Dalam kunjungan itu, presiden akan melakukan panen raya perdana di daerah itu. Ada hal yang pasti dalam kunjungan presiden ini: bahwa rakyat pedesaan yang sebelumnya hanya mengenal SBY lewat media massa dan elektronik, kali ini akan bertemu langsung dengan pemimpin yang dipilihnya itu.

Lebih jauh dan penting, tentu akan ada komunikasi antararakyat dan pemimpinnya. Dengan demikian, kedatangan SBY ke Simalungun hendaknya jangan disambut secara eforia, seremonial atau protokoler belaka. Kedatangan SBY ke Simalungun harus dimanfaatkan sebagai momentum ‘curhat’ antara pemimpin dan rakyat.

‘Curhat’ yang dimaksud tentu tidak sekedar unek-unek, tapi lebih pada komunikasi konstruktif antara pelayan dan kelompok yang dilayani. Inilah momentum bagi warga Simalungun, juga Siantar, untuk mengkomunikasikan kepada presiden apa persoalan ril yang dihadapi daerah ini.

Ini penting karena bisa saja SBY tidak tahu secara persis persoalan di Simalungun, khususnya menyangkut pertanian. Sebab laporan yang diterima di Jakarta selama ini, bisa saja laporan asal bapak senang. Jika itu yang terjadi, wajar SBY meringankan langkah ke Simalungun karena telah diceritakan kepadanya sebuah keberhasilan pembangunan pertanian terutama produksi padi. Ada 1000 hektare lahan padi yang siap dipanen sehubungan dengan kedatangannya. Dalam situasi perberasan nasional yang tak kunjung ‘aman’ dan diperburuk bencana yang membuat pemerintah harus melakukan operasi pasar, informasi panen raya seluas 1000 hektare padi Simalungun tentu saja membuat SBY lega.
Pertanyaannya, apakah panen perdana itu sudah bisa menjadi refleksi keberhasilan pembangunan pertanian dan perberasan di Simalungun? Jika kita mau jujur, kondisi pertanian dan perberasan di Simalungun sebenarnya tak beres-beres amat.

Hati-hati, panen perdana 1000 hektare padi itu bisa menjulang jadi menara gading, bahan tertawaan sekaligus di aras akar rumput. Masalahnya, beras miskin (raskin) saja tak bisa diurus Pemerintah Kabupaten Simalungun. Kabupaten ini adalah penunggak terbesar raskin di Sumatera Utara. Ini adalah cermin manajamen pemerintahan daerah kita yang buruk. Yang ingin kita sampaikan, jangan terlalu bereforia karena berhasil mendatangkan SBY ke daerah ini.

Hal-hal demikian inilah hendaknya yang kita bicarakan dengan SBY. Kita sampaikan keluhan dan kondisi ril pertanian kita. Kita paparkan tingkat kesejahteraan petani kita, bahwa petani Simalungun adalah kelompok masyarakat kelas dua di daerah ini. Lalu ada persoalan distribusi pupuk bersubsidi yang tidak pernah dinikmati petani, minyak tanah yang langka dan mahal, harga produk-produk pertanian yang sepenuhnya diperbudak mekanisme pasar seolah tak ada kontrol dari pemerintah setempat. Lebih jauh, ada praktek-praktek perusakan lingkungan seperti perambahan hutan di Jandi Raya itu, jaringan irigasi yang amburadul sehingga ratusan hektare sawah di Nagori Tiga Bolon Panei, juga di daerah lain, beralih fungsi jadi pertanian darat. Kondisi infrastruktur jalan ke pedesaan yang tak kunjung representatif, bahkan jalan produksi di berbagai lahan dan pertanian yang cenderung tak pernah diperhatikan. Akses dan infrastruktur pertanian kita masih sangat rendah. Daftar ini tentu akan makin panjang jika kita beberkan lagi kasus-kasus persengketaan tanah di Simalungun seperti di Bandar Betsy, Bukit Lima, Mariah Hombang, Silampuyang, juga penjualan aset negara di hutan Buntu Turunan berikut dana sertifikasi ratusan juta yang ‘lewong’. Ataukah harus dibeber juga proyek-proyek mubazir seperti Balai Benih Ikan di Karang Bangun dan anehnya dibangun lagi di Jawa Tongah dari anggaran DAK itu?

Kita setuju program nasional tentang revitalisasi pertanian didengungkan, konsep agropolitan dikampanyekan, juga pengembangan biodiesel atau minyak nabati dan gagasan-gagasan mercusuar lainnya. Kita dukung itu sebagai proyek jangka panjang untuk membawa peradaban negara ini ke arah yang lebih baik. Tapi kita harus sampaikan kepada SBY bahwa infrastruktur awal menuju ke sana belum lagi matang. Kita harus ceritakan bahwa berbagai sektor kehidupan di daerah ini masih karut marut, termasuk perekonomian rakyat yang terus melemah. Maksudnya, harus ada komitmen SBY mengingatkan para kepala daerah sebagai perpanjangan tangan pemerintah untuk mempersiapkan infrastruktur menuju konsep ideal yang diterjemahkan dalam program pembangunan nasional. Alangkah sayangnya jika SBY datang ke Simalungun hanya berpanen ria, tidak berkomunikasi dengan rakyatnya untuk mencari benang merah semua persoalan dan mengenal daerah ini lebih dekat.
Maka, kedatangan SBY menjadi sangat penting, bukan secara politik bagi SBY dan bupati (SBY memang lagi betah dan doyan turun ke kampung-kampung menerapkan pola komunikasi politik langsung dengan rakyat). Penting yang kita maksud adalah sejauh mana momentum ini dapat dikelola pemerintah setempat memfasilitasi komunikasi antara presiden dengan rakyat.

Jangan-jangan, kedatangan SBY hanyalah teater pertunjukan kerasnya Paspampres dan protokoler yang memutus semua komunikasi yang diinginkan rakyat dengan presiden. Jika begitu, kunjungan SBY tak lebih dari sekedar kunjungan politik. Seperti model kelompencapir-nya Orde Baru.

Nah, di sini letak soalnya. Sejumlah pihak memprediksi, untuk menyambut kedatangan SBY besok, Pemkab Simalungun pasti telah mempersiapkan sekelompok orang untuk berbicara dengan presiden. Terlepas apakah kelompok orang itu terdiri dari petani, kelompok tani, atau kelompok lain yang secara insidental disulap jadi ‘petani’. Kita kuatir mereka telah di-briefing sebelumnya, dipaksa ngomong yang baik-baik, lalu dilatih untuk tidak ‘ceplos’ dan ‘keselewo’ membicarakan hal-hal yang buruk. Saya yakin SBY tidak menginginkan informasi dan komunikasi seperti itu. Di sinilah kejujuran kita sebagai rakyat dibutuhkan. Inilah momentum bagi pemerintah daerah secara jujur mengutus petani, benar-benar petani, berbicara dengan presiden tanpa menutup-nutupi kenyataan. “Jangan ada dusta antara kita,” demikian ungkapan ini sering diteriakkan.
Tapi seorang rekan saya yang gigih berjuang untuk rakyat, kemarin menyusup dalam rapat kordinasi di Ruang Harungguan Pemkab Simalungun. Kita akhirnya pesismis bahwa kehadiran SBY dapat membawa kesadaran baru bagi pembangunan daerah ini ke depan. Kultur jujur, disiplin dan bertanggungjawab agaknya tidak bisa ditegakkan dengan kunjungan SBY. Kita ternyata masih tetap dipenjara kultur Orde Baru.

“Petani dilarang bicara tentang illegal logging. Dengan presiden harus bicara baik-baik, tak boleh yang buruk-buruk,” demikian teman saya menceritakan suasana rapat kemarin. Nah!

Tiada komentar »

Catatan Sastra Riau 2005

Oleh Marhalim Zaini

MEMBUAT sebuah catatan, memang mengandung sejumlah resiko.

Resiko yang paling besar biasanya datang dari “hasil catatan”

itu sendiri yang kurang komprehensif, sehingga menimbulkan

ketidakpuasan pembaca. Namun, sebuah catatan bisa jadi hanya

dianggap sebagai hasil dari sebentuk “pembacaan lepas” dari

seseorang yang secara kebetulan memiliki perhatian khusus

terhadap bidang tertentu. Meski demikian, sesungguhnyasebuah

catatan (seringan apapun), acapkali dibutuhkan sebagai bahan

untuk menengok, lalu mengkomparasikan, dan kemudian melakukan

‘timbangan-timbangan’ untuk menakar kadar “bobot” yang ada

dalamobyek tersebut.

Catatan yang akan saya paparkan berikut ini, bisa jadi hanya

sebentuk catatan ringan tentang perjalanan dan

(mungkin)perkembangan sastra (di) Riau selama tahun 2005. Hal

tersulit, sebelum saya memutuskan untuk membuat catatan

iniadalah, ketika hendak duduk sebagai seorang pembaca yang

obyektif, lantas memaparkan sejumlah argumentasi,

danmelakukan penilaian-penilaian. Kesulitannya, karena posisi

saya yang juga sebagai seorang kreator(penulis/pengarang),

yang terkadang (dikuatirkan) akan “bias” pembacaannya dengan

“selera” karya-karya sendiri.

Memang di Indonesia kita punya kritikus sastra handal yang

juga sekaligus seorang penulis seperti Budi Darma atau

Sapardi Djoko Damono. Tapi, seorang otodidak macam saya tentu

saja belum berani duduk dalam kapasitas itu.Sapardi, jelas

seorang Guru Besar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia,

dan Budi Darma adalah Guru Besar diFPBS Universitas Negeri

Surabaya. Mestinya memang, ada banyak akademisi (sarjana)

sastra Riau —yang lahirdari bangku-bangku perkuliahan sastra

di perguruan tinggi di Riau— yang dengan intens melakukan

pembacaan-pembacaan terhadap karya sastra penulis Riau.

Mungkin lebih aman juga kalau mau mengambil posisi macam

kritikusMaman S Mahayana, Faruk HT, Ignas Kleden, Nirwan

Dewanto, Melani Budianta, Riris K Toha Sarumpaet, dan

banyaknama lain. Maka dengan pertimbangan semacam itu, saya

hanya membuat sebuah catatan kuantitatif (dengan

sejumlahdata), dan tidak melakukan catatan kualitatif (yang

menakar tentang capaian-capaian), tapi di samping itu

izinkanlahsaya menyampaikan apresiasi-apresiasi.

Produktivitas dan Prestasi Sastra
Hary B Koriun dalam catatan kebudayaannya di media ini (Ahad,

8 Januari 2006), telah pun melakukanpencatatan sejumlah

perkembangan dan peristiwa sastra tahun 2005. Di antaranya,

di dunia penerbitan buku sastra,menurut Hary, “terlihat

mengalami progres yang baik dan mendapat tempat bukan hanya

di Riau tapi juga ditingkat nasional”. Untuk sebuah

optimisme, kita patut mendukungnya. Meski menurut hemat saya,

buku-buku sastra yang terbit tahun 2005 itu (seperti yang

telah disebut dalam catatan Hary, dan rasanya tak perlu saya

sebutkankembali), masih lahir dari para penulis Riau yang

telah cukup lama bergelut di dunia kepenulisan (seperti Hasan

Junus, Taufik Ikram Jamil, dan Fakhrunnas MA Jabbar),

sehingga memang telah sejak lama pula “mendapattempat” di

tingkat yang lebih luas. Sementara buku-buku dari penulis

lain, hanya buku Nyanyian Batanghari karya Hary B Koriun dan

novel Gadis Kunang-kunang karya Olyrinson (yang luput disebut

Hary), yang tampaknyacukup terdistribusi dengan baik.

Dari angka penerbitan buku sastra yang tak seberapa itu,

apakah kemudian bisa memperlihatkan perkembangan sastradi

daerah ini? Saya justru dapat melihat perkembangan sastra

kita dari buku-buku kumpulan karya pilihan Riau Pos

yangditerbitkan oleh Yayasan Sagang setiap tahunnya. Tradisi

penerbitan buku kumpulan karya ini secara tidak

langsungmemperlihatkan produktivitas para penulis di daerah

ini. Meski memang terlampau sempit untuk menakar

produktivitassastra hanya dari sebuah ruang budaya di Harian

Riau Pos yang terbit tiap hari minggu itu, namun paling

tidak, ada yangdapat kita catat dari hasil pergulatan sastra

selama satu tahun. Tengoklah dari tahun ke tahun, buku

kumpulan karyapilihan Riau Pos itu, selalu memberi warna

dalam konstelasi sastra (di) Riau. Meski sisi kelemahannya

adalah, tidakadanya ulasan-ulasan (atau kritik sastra yang

representatif) yang mengiringi terbitnya buku tersebut

(seperti halnyaPenerbit Kompas dengan buku Cerpen Pilihan

Kompas-nya). Ini satu hal teramat penting, yang mungkin tak

sempat jadiperhatian kita bersama.

Harus kita akui, selain buku, media sastra seperti koran dan

majalah adalah lahan subur tumbuh-kembangnya sastramodern

Indonesia. Dan sejak tahun 1993, saat Sapardi membuat catatan

sastra-nya (Republika, 24 Desember 1993),sampai kini di akhir

tahun 2005, media massa cetak yang merupakan bagian sangat

penting dari kebudayaan populerkita, masih menjadi media yang

efektif untuk mempublikasikan sekaligus mensosialisasikan

sastra ke ruang baca publikyang lebih luas. Hampir semua

penulis-penulis besar di Indonesia (bahkan di dunia), dalam

proses kepenulisannya,mengirimkan karya-karya ke media massa.

Tapi, marilah kita lihat sejumlah catatan tentang pemuatan

karya-karya penulis Riau di media massa yang sempat sayacatat

selama tahun 2005 ini. Di sejumlah media lokal semacam Riau

Pos, Riau Mandiri, Riau Tribune, Majalah Sagang, Majalah Seni

Berdaulat, danluar Riau semacam Suara Merdeka (Semarang),

Pikiran Rakyat (Bandung) dan Sumut Pos, nama-nama penulis

seperti Pandapotan MT Siallagan, Sobirin Zaini, M. Badri, dan

Marhalim Zaini, menduduki “peringkat” untuk 10 sampai 15 kali

pemuatan. Sementara untuk “peringkat” di bawahnya (antara 3

sampai 5 kalipemuatan) di media lokal Riau, dapat dicatat

nama-nama penulis berikut (tanpa spesifikasi usia): Musa

Ismail, Fitrimayani, Fakhrunnas MA Jabbar, Armansyah, Edy

Ahmad RM, Dedi Yusri, Hary B Koriun, Olyrinson, SyaifulBahri,

Hang Kafrawi, Elly Zan Katan, Binoto H Balian, TM Yusuf, dan

Jefri Al Malay.

Kemudian untuk sekali-dua karya-karya penulis Riau yang

muncul di media selama tahun 2005 adalah: Nyoto, Eka

PN,Aliela, Adinda Hafizah, Fedli Aziz, Roza Muliati, Akmal

Famajra, Nandik Suparyono, Bubun Bunyamin, Ramon

Damora,Saidul Tombang, Murparsaulian, Jon Lis Effendi, Gde

Agung Lontar, Suhendri, Sahrul Tombang, Fariz Ihsan Putra,

Sei Gergaji, Dien Zhurindah, Alang Rizal, Yoesrizal Zen, Evi

Erlinda, Muhalib, Abel Tasman, Rosman, Budi Utamy, danAsrizal

Nur.Sementara untuk media nasional, penulis-penulis Riau yang

tampak masih rajin adalah Marhalim Zaini [Media Indonesia(2

kali), Majalah Sastra Horison (2 kali), Koran Tempo (2 kali),

Kompas, dan Jawa Pos], kemudian Fakhrunnas MAJabbar (Media

Indonesia dan Kompas), dan Taufik Ikram Jamil (Republika dan

Jurnal Cerpen).Dari sejumlah penulis di atas, ada muncul

seorang penulis berusia remaja dan masih duduk di bangku SMAN

Plus Riau,bernama Fariz Ihsan Putra. Cerpen-cerpennya juga

sempat terhimpun dalam buku Seikat Dongeng Tentang Wanita

danSatu Abad Cerpen Riau. Hemat saya, potensi dan bakat besar

yang tampak dalam karya-karyanya, cukup memberiharapan baru

dalam regenerasi sastra Riau. Selain itu, hal yang cukup

menarik adalah munculnya para penerjemahsastra. Semisal

Murparsaulian, Roza Muliati, Gde Agung Lontar, Zuarman Ahmad,

Evi Erlinda, dan Armansyah. Diantara nama-nama tersebut,

Armansyah cukup produktif melakukan upaya penerjemahan karya

sastra Timur Tengah.

Paling tidak, kita bisa berkata, inilah para penerjemah

penerus Hasan Junus.Selama tahun 2005 pula, dapat dicatat

sejumlah prestasi yang telah diraih oleh sejumlah penulis

Riau. Seperti Olyrinsonyang meraih juara II Sayembara Menulis

Novel Forum Lingkar Pena, Juara III Mengarang Cerpen Krakatau

AwardDewan Kesenian Lampung, lalu juara harapan Menulis

Cerpen Dewan Kesenian Riau, juara harapan Menulis

CerbungFemina, dan nominator cerpen CWI 2005. Selain Oly, ada

Abel Tasman yang meraih juara harapan I dalam LombaMengulas

Karya Sastra yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan

Nasional, dan penerima Anugerah SeniTradisi dari Dinas

Budsenipar Provinsi Riau. Kemudian Hary B Koriun yang meraih

Anugerah Ganti untuknovelnya Nyanyi Sunyi dari Indragiri,

lalu novel remajanya berjudul Jejak Hujan masuk 10 besar

Sayembara MenulisNovel Remaja yang diselenggarakan oleh

Grasindo dan Radio Nedherland Suara Indonesia (Ranesi).

Selain itu, Marhalim Zaini raih Pemenang Penghargaan I dalam

Sayembara Novel Dar Mizan 2005, Juara II untuk Puisi dan

Cerpen(tingkat Nasional) dalam Laman Cipta Sastra DKR, dan

naskah skenarionya berjudul Dongeng Negeri Siti masuk dalam10

Naskah Pilihan Sayembara Menulis Skenario Film Cerita yang

diselenggarakan oleh Departemen Kebudayaan danPariwisata dan

Dirjen Perfilman Nasional, dan terakhir Marhalim juga

diundang dalam Bintan Art Festival di TanjungPinang, dan

sebuah iven sastra Internasional yang ditaja oleh Komunitas

Utan Kayu bertajuk International LiteraryBiennale 2005 yang

digelar di Bandung, Lampung, dan Jakarta.Selain sejumlah

prestasi di atas, boleh jadi juga masih ada sejumlah penulis

Riau yang meraih penghargaan sastra,namun tak tertangkap

dalam “radar” pembacaan saya. Dan dari paparan produktivitas

yang diperkuatdengan sejumlah prestasi, barangkali tak

terlampau sulit untuk kemudian membuat semacam pemetaan

sastra di Riau.

Wacana dan Peristiwa SastraSeorang pengamat sastra lulusan

sebuah universitas di Leiden, Sudarmoko, pernah menulis di

media ini berjudul“Komunitas dan Perkembangan Sastra Kita.”

Ia mencermati fenomena munculnya beragam komunitassastra di

daerah-daerah, yang kemudian cukup memberi kontribusi dalam

khazanah sastra, baik dalam pemikiranmaupun terlahirnya para

penulis-penulis baru. Namun, saya kira, tidak untuk Riau.

Sepanjang tahun 2005, komunitassastra boleh dikata tidak

muncul, kecuali Senapelan Writer Assosation (sehabis

menerbitkan buku kumpulan sajakBelantara Kata, kini tampak

diam) dan Majelis Jumat (sebuah komunitas lepas dan sebuah

forum diskusi sastrabulanan). Majelis Jumat yang digerakkan

Marhalim Zaini dan dinaungi Yayasan Pusaka Riau, mungkin

bukanlah sebuah wadahideal untuk melahirkan wacana-wacana

besar dan penulis-penulis baru.

Namun, sebagai sebuah gerakan budaya, sayakira, ia patut

dicatat.Tema-tema yang diangkat dalam Majelis Jumat selama

setahun (terhitung September 2004 s/d September 2005)

adalahApa Kabar Sastra Riau (pembicara Sy Bahri Judin),

Proses Kreatif Pengkarya (pembicara Goenawan Mohamad

danChaidir), Bedah Buku Langgam Negeri Puisi karya Marhalim

Zaini (Pembicara Maman S Mahayana), Strategi SastraRiau

(pembicara Taufik Ikram Jamil), Satu Abad Sastra Riau

(pembicara Fakhrunnas MA Jabbar dan Sutrianto), Sastradan

Media Massa (pembicara Hary B Kori’un dan Fitrimayani), Bedah

Novel Jalan Menurun karya Olyrinson(pembicara Abel Tasman),

Fenomena Sastra Perempuan (Pembicara Essy Syam), dan Membaca

Sastra Remaja (pembicara Hang Kafrawi).

Setelah tema terakhir ini, Majelis Jumat kemudian membentuk

Rumah Sastra Siswa (RSS),yang sampai kini tetap aktif

mengadakan diskusi karya dengan sejumlah siswa di

Pekanbaru.Di antara tema-tema di atas, yang kemudian mencuat

dan sempat menjadi polemik di Riau Pos adalah tema“Sastra dan

Media Massa” yang dilemparkan oleh Hary B Kori’un, dan

kemudian ditanggapi olehMarhalim Zaini, Pandapotan MT

Siallagan, dan M Badri. Sebagian polemik termaktub dalam buku

Tafsir Luka (YayasanSagang, 2005). Wacana lain yang cukup

mencuat adalah “Satu Abad Cerpen Riau” dan “Fenomena Sastra

Perempuan” Untuk tema terakhir, Adinda Hafizah merespon

dengan tulisannya berjudul PerempuanPengarang di Riau Hanya

Sebagai Penonton?, yang kemudian ditanggapi oleh Marhalim

Zaini dengan Bukan Memperbincangkan Kelamin Sastra.

Dan terakhir polemik ringan juga terjadi antara Marhalim

Zaini dan Sudarmoko tentang wacana

“Pembaca-yang-tak-bersih.”Di akhir tahun 2005, sebuah

peristiwa sastra nasional yang mengusung wacana lokalitas

juga digelar di kota Bertuah ini.Sebagaimana yang juga telah

dipaparkan oleh Hary dalam catatannya, Kongres Cerpen

Indonesia (KCI) yang dihadirioleh para pembicara dan peserta

dari berbagai daerah di Indonesia ini, rupanya cukup memberi

kontribusi yangsignifikan bagi menengok arah perkembangan

sastra (terkhusus cerpen) di Riau.

Wacana lokalitas dalam cerpen-cerpenpenulis Riau-lah

sesungguhnya yang memberi laluan bagi sebuah wacana besar

yang selama ini didengung-dengungkan, yakni Mazhab Riau.

Hemat saya, kehadiran para kritikus sastra macam Budi Darma,

Melani Budianta,Maman S Mahayana, Nirwan Dewanto, Abdul Hadi

WM, Agus R Sarjono, Ahmadun Y Herfanda dan juga para

penulishandal macam Ahmad Tohari, Joni Ariadinata, Gus TF

Sakai, dan lain sebagainya, cukup menjadi sebuah

legitimasikreatif, bahwa di negeri ‘gerah’ ini juga masih

terhimpun para penulis-penulis yang dengan

gigihmemeperjuangkan “ideologi sastra”-nya yang kelak dapat

mengisi ruang-ruang kebudayaan Nusantara.

Ada baiknya di tahun ini, wacana-wacana sastra juga

berkembang dalam komunitas-komunitas sastra di Riau.Tumbuhnya

wacana-wacana ini sesungguhnya dapat memperkuat eksistensi

sastra di wilayah publik. Sehingga sastratidak hanya berdiri

di menara gading, akan tetapi melakukan upaya pembangunan

jaringan sastra di tingkat yang palingbawah.

Tertangkap-basahnya para plagiat di tahun 2005, juga

mengindikasikan counter masyarakat pembaca kita sudahmulai

meningkat. Artinya, diam-diam sudah “ada yang jalan” dalam

lorong-lorong sunyi kebudayaan kita,meski sangat-sangat

perlahan.Ulasan SastraTak dapat dipungkiri, bahwa

sesungguhnya kita sedang sangat merindukan hadirnya para

“pengulassastra&” (baca: kritikus sastra) dalam konstelasi

sastra di Riau. Betapapun pahitnya sebuah kritik, hasil dari

sebuahpembacaan kritis justru membuat karya-karya yang

dihasilkan tak kehilangan “pegangan”.

Karya-karyatersebut kemudian dapat hadir dengan wajahnya yang

cemerlang dan penuh “ketakterdugaan” Kita tentutak menafikan

bahwa memang ada sejumlah pengulas sastra kita yang mumpuni,

namun barangkali untuk tahun 2005,kita belum membaca hasil

ulasan mereka.Tapi baiklah, sejumlah ulasan sebenarnya dapat

kita temui justru lebih banyak dari para pengulas dari luar

Riau. MamanS Mahayana misalnya, terakhir mengulas karya puisi

Asrizal Nur dalam kata pengantarnya untuk buku antologi

puisiberjudul Perlawanan Orang Kotak Debu (Riau Pos, 23

Oktober 2005).

Sebelumnya, Maman juga mengulas puisiMarhalim Zaini yang

tergabung dalam antologi Langgam Negeri Puisi, yang kemudian

dikirim dalam berbagai versi ketiga media berbeda (Riau Pos,

Republika, dan Majalah Horison). Seorang pengulas sastra dari

Lampung Oyos SarosoHN juga melakukan pembacaan terhadap puisi

Marhalim Zaini dalam tulisannya berjudul Puisi Indonesia dan

Teosentris-Antroposentris Terbelah (Media Indonesia, 12 Juni

2005). Lalu dapat juga kita baca ulasan dari Wannofri

Samryterhadap novel Hary B Koriun berjudul Nyanyian

Batanghari (Riau Pos, 9 Oktober 2005). Selain itu, dari

penulis Riau kitatemukan sejumlah ulasan sastra, seperti

Fakhrunnas MA Jabbar yang mengulas karya-karya Idrus Tintin

(Riau Pos, 7Agustus 2005), atau Rosman H yang mengulas cerpen

Hang Kafrawi (Majalah Seni Berdaulat, XIII, 2005), atau

Griven HPutra yang mendedahkan buku Republik Jangkrik karya

Abel Tasman (Majalah Seni Berdaulat, XIV, 2005).
***

SAYA kira, di tahun-tahun mendatang, hal yang perlu dilakukan

adalah mengisi kekosongan-kekosongan yang masihdemikian

tampak dalam peta sastra kita. Produktivitas barangkali

bukanlah menjadi soal yang krusial jika targetnyahanya semata

absensi “kehadiran” dan tidak melakukan upaya penggalian

esetetika. Namun, produktivitaskadangkala bisa menjadi

tonggak awal bagi proses berikutnya, terutama untuk menengok

‘jarak tempuh’perjalanan kreatif seorang penulis. Di samping

itu, ada baiknya mengatur sejumlah strategi, dengan

membangunjaringan publikasi terluas, membangun

komunitas-komunitas dan menelurkan wacana-wacana sastra,

serta denganperlahan-lahan membangun tradisi baru sastra Riau

yang lebih kondusif, kreatif-inovatif. Tabik, sastra Riau!***

Marhalim Zaini, pembaca sastra, tinggal di Pekanbaru.
Riau Pos, Minggu, 15 Januari 2006
 

Komentar (1) »

Sastra Koran, Sastra Saiber dan Sastra Apa Lagi?

Oleh M Badri

Membaca rubrik Budaya Riau Pos edisi Ahad dalam tiga pekan terakhir (6, 13, dan 20 Februari 2005) saya seperti melihat suasana lain di tengah ‘keheningan’ sastra Riau. Praktis ini merupakan perdebatan kreatif yang baru muncul lagi sejak beberapa bulan lalu, saat Syahrul Tombang menulis esai “Sastra, Sebuah Agama Baru (?)” dan melahirkan polemik di media massa. Tradisi ini sangat positif dilakukan karena dapat memunculkan pemikiran-pemikiran baru dalam perkembangan sastra di Riau. Sebab gairah sastra sedikit banyak terbentuk dari berbagai diskusi––terlepas apa pun mediumnya.

Membaca tiga buah esai secara berturut-turut yang saling terkait secara tematik, membuat saya tergelitik untuk ‘latah’ menanggapi beragam pemikiran yang telah tersaji. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa peran media massa sangat besar untuk melahirkan sastrawan dan karya sastra. Mungkin itulah yang mendasari tulisan Hary B Koriun dalam esai “Simbiosis Mutualisme antara Sastra dan Media Massa” yang mengatakan bahwa hubungan karya sastra dan media massa di Indonesia, merupakan fenomena unik yang merupakan sebuah hubungan yang saling menguntungkan (simbiosis mutualisme).

Kenyataannya memang demikian, media massa lebih dekat dengan pembaca dibanding dengan media lain. Sebab pengakuan kualitas (?) karya sastra tetap tergantung kepada penilaian publik pembaca. Bahkan pernah terjadi suatu karya sastra dianggap tidak pernah ada atau berhenti diterbitkan karena mendapat protes dari pembaca. Maka tidak heran bila banyak penulis selalu mengikuti keinginan pembaca supaya laku di pasaran. Seperti fenomena mutakhir sastra Indonesia saat ini, yang sedang dilanda demam teenlit dan chicklit, yang menurut bahasa Arswendo Atmowiloto disebut sebagai “sastra jerawat” yang muncul di ruang dan waktu sesaat seperti tumbuhnya jerawat.

Kembali kepada masalah hubungan ‘intim’ antara sastra dan media sastra, saya menilai (secara subyektif) tidak perlu ada pengkotak-kotakan media massa. Sebab semua bentuk publikasi bisa disebut sebagai media (untuk) massa. Kalau memang demikian apa perlu lagi kita membahas sastra koran? Toh, kenyataannya hampir semua media massa besar––termasuk Riau Pos––mempunyai media online yang menampilkan karya sastra dalam multimedia. Sehingga perbincangan sastra koran menjadi tidak menarik lagi bila kita melihat perkembangan saat ini. Menurut hemat saya biarkanlah sastra dibicarakan secara ‘telanjang’ tanpa mempersoalkan jubahnya (baca: media) baik itu koran, majalah, internet, buku, dan sebagainya. Sebab sastra sendiri juga bisa selalu berganti-ganti media, sebagai contoh tidak sedikit karya sastra yang dimuat di koran kemudian juga dipublikasikan secara online dan dibukukan.

Setelah membaca esai Pandapotan MT Siallagan “Kembali Memperbincangkan Sastra Koran” dan mengajak sastrawan Riau untuk memperbincangkan sastra koran, saya menilai ide ini sudah terlambat untuk dibicarakan saat ini. Memang tidak dapat dipungkiri kalau sebagian besar sastrawan tumbuh dan berkembang dari media koran. Tapi saya tidak sepakat bila disebutkan fakta bahwa sastra dan sastrawan Indonesia hari ini adalah sastra dan sastrawan koran. Dengan pernyataan seperti itu saya menilai Pandapotan terlalu mengkerdilkan media lain semisal buku dan cyber (lebih enak ditulis: saiber). Mengingat ruang pembaca media koran masih terbatas dalam cakupan wilayah koran tersebut diterbitkan. Mungkin beberapa waktu lalu saya tidak akan pernah mendapat e-mail dari sahabat peminat sastra di belahan bumi lain setelah mengakses situs www.riaupos.com, bila Riau Pos sebagai koran lokal tidak mempublikasikan karya sastranya secara online. Meskipun dengan jumlah pembaca terbanyak, tetapi media cetak (koran) tetap tidak bisa menembus ruang dan waktu.

Munculnya berbagai mailinglist sastra juga tidak bisa dipandang dengan sebelah mata. Begitu juga dengan berbagai situs ‘amatiran’ yang dibuat banyak orang dan dapat dengan mudah diakses oleh siapa saja di mana saja. Di media tersebut orang bebas memunculkan karyanya untuk dibaca tanpa harus berhadapan dengan tangan besi ‘kediktatoran’ redaktur budaya. Bukankah orang menulis karya sastra memang untuk dibaca siapa saja? Dan semua penulis pasti bangga bila karyanya dibaca orang, apalagi kalau kemudian dipuja (atau) dicerca. Sebagaimana esai Binhad Nurrohmat “Mencari Mutiara dalam Tumpukan Sampah Saiber” yang pernah dimuat Republika (maaf lupa tanggalnya), dia menuliskan bahwa, “medium komunikasi teks sastra ini di luar dugaan ternyata ‘merangsang’ banyak orang menulis atau mengirimkan teks sastra. Sejumlah nama penulis baru (yang masih a-historis) bermunculan, termasuk beberapa dedengkot penulis senior yang populer. Barangkali, situs sastra saiber ibarat alun-alun raksasa yang nyaris tak mustahil menghimpun siapa pun dan sebanyak apa pun nafsu untuk menulis. Lalu lahir komunitas sastra saiber. Sastra saiber sepintas mencerminkan getaran ‘sihir’ yang merangsang eforia menulis, menciptakan ruang demokratisasi menulis yang tak terkirakan kadar kebebasaannya. Sastra saiber kemudian menjadi ekologi teks yang rimbun dan ramai di balik kemayaan yang dingin dan misterius itu.”

Walaupun demikian, dalam perjalanan ‘demokratisasi menulis’ media saiber sering dianggap sebagai media sastra yang ibarat ‘tong sampah’. Pendapat ini muncul karena media ini memuat berbagai bentuk karya sastra tanpa proses seleksi sehingga menyebabkan hancurnya ‘moralitas’ menulis yang ditandai dengan munculnya teks-teks liar tidak bertanggungjawab. Kalau estetika karya sastra diukur dari ‘moralitas’ teks, lalu bagaimana dengan karya-karya ‘panas’ Djenar Maesa Ayu, Hudan Hidayat dan sebagainya yang muncul di koran-koran besar semisal Kompas, Koran Tempo dan Media Indonesia yang (katanya) telah melalui seleksi dengan ketat? Melihat hal ini saya beranggapan bahwa sastra saiber sebagai bentuk alternatif atau perlawanan terhadap arogansi sastra koran dengan selera subyektif redakturnya semata.

Tapi saya mengingatkan jangan pernah berharap mendapat honorarium dari penerbitan karya sastra di media saiber. Sebab sastra saiber umumnya muncul bukan sebagai ‘media kapitalis’ yang mendapatkan keuntungan dari penerbitan karya sastra itu. Bahkan tidak sedikit yang gulung tikar karena tidak ada founding dan pengelola yang setiap saat mau berprofesi sebagai ‘pekerja sosial’ di bidang sastra. Itulah kelemahannya, sehingga koran tetap menjadi media terdepan karena secara ekonomis relatif lebih menjanjikan bagi kreativitas sastrawan. Sebab motif menulis bagi sebagian besar sastrawan tetap untuk mendapatkan honorarium (yang layak).

Sastra, Media dan Ukuran Kualitas
Keragaman bentuk media yang bisa dijadikan sarana publikasi karya sastra akan memberikan warna baru bagi perkembangan sastra itu sendiri. Namun seperti saya singgung di bagian awal tulisan ini, kita tidak perlu memilah-milah istilah untuk berbagai media sastra tersebut. Karena setiap saat media sastra selalu berkembang mengikuti perjalanan teknologi mutakhir. Beberapa abad lalu sebelum ada media berbentuk teks, orang mempublikasikan sastra secara lisan dari mulut ke mulut atau lazim disebut dongeng. Setelah ada kertas maka sastrawan mengapresiasikan karya sastranya ke dalam teks, melalui buku-buku dengan tulisan tangan, kemudian cetak (printing). Setelah ada penerbitan koran, maka kesempatan untuk mempublikasikan karya sastra semakin terbuka lebar. Hingga kini muncul berbagai media baru seperti internet dan compac disc. Lalu apakah perlu melakukan pengelompokan sastrawan dan karya sastra sesuai dengan bentuknya?

Kalau demikian tentu saja nanti akan muncul istilah sastra(wan) buku, sastra(wan) koran, sastra(wan) saiber, hingga sastra(wan) compac disc, atau entah istilah apa lagi. Tentu saja pengistilahan seperti ini hanya akan menimbulkan beragam persepsi tentang sastra yang mengarah pada perdebatan tidak menguntungkan. Padahal hubungan simbiosis mutialismenya tetap sama. Lalu kalau kita harus berbicara masalah kualitas sastra di berbagai media tersebut tetaplah tidak akan mendapatkan jawaban yang sama. Sebab ukuran kualitas adalah sesuatu yang relatif dan subyektif. Dan semua orang mempunyai hak untuk menentukan kualitas karena tidak ada batasan-batasan penilaian. Begitu juga dengan redaktur budaya di media massa, tentu ukuran kualitas dari semua media tidak akan pernah sama bila orangnya juga berbeda.

Namun walaupun demikian, sebagaimana disebutkan Marhalim Zaini dalam esai “Sastra atau Media Massa yang Mandul (?)”, peran para redaktur budaya kita––baik yang kompeten maupun tidak kompeten––sesungguhnya sangat besar dalam ikut memberi arah, menentukan spektakel, dan menurunkan tulisan-tulisan yang berkualitas, dan dapat membaca secara cermat orisinalitas (tidak plagiasi) dari tulisan yang akan dimuat. Karena media massa yang sekaligus berperan dan dipercaya sebagai penjaga gawang kebudayaan harus lebih mengetengahkan obyektivitas daripada sebuah pembacaan yang sekilas. Pada posisi ini sastra dan media massa dapat duduk berdampingan dan saling membutuhkan.

Dalam konteks hubungan yang demikian, maka terciptalah sebuah simbiosis mutualisme yang dimaksudkan Hary B Koriun di mana media (apa pun bentuknya-pen) tetap merupakan sebuah tempat yang diperlukan oleh para penulis untuk mengaktualisasikan diri dan karyanya, sementara media juga membutuhkan karya sastra tersebut sebagai sebuah simbol dari intelektual. Karena media membutuhkan hal ini sebagai sebuah legitimasi, atau istilah kasarnya bahwa media tersebut juga ingin disebut sebagai media yang berbudaya.

Tentu saja kalau harus berbicara kualitas yang subyektif, kita tidak perlu membelah tubuh sastra menjadi berbagai macam bentuk menurut medianya. Karena bukan berarti kualitas sastra saiber lebih buruk dari sastra koran atau buku, begitu juga sebaliknya. Sebab media tetaplah media, yang selalu berubah setiap ada penemuan baru. Dan biarkan sastra berjalan mencari medianya sendiri. Karena apa pun medianya, tetap mempunyai kelebihan dan kekurangan. Sehingga nantinya tidak ada istilah sastra koran, sastra saiber dan sastra sebagainya…***

M Badri. Peminat dan penikmat sastra

Tiada komentar »

Siapkan yang Muda, Bangun Jaringan

Sumber: Riau Pos, Minggu, 05 Desember 2004 

Dari Diskusi Majelis Jumat Tentang Strategi Sastra Riau

Belakangan,  karya beberapa  sastrawan Riau  kembali mewarnai
beberapa media nasional (baca: Jakarta). Selain nama Taufik Ikram Jamil dan Fakhrunas MA Jabbar, sastrawan muda Marhalim Zaini dan Agus Hernawan (sebelumnya tinggal di Padang), juga sudah mulai diperhitungkan. Bagaimana dengan yang lainnya? Bagaimana pula membuat strategi untuk menembus ketatnya persaingan?

Laporan HARY B KORI’UN, Pekanbaru

PERKEMBANGAN sastra Indonesia tak terlepas dari perkembangan media massa. Banyak pendapat mengemuka, bahwa perkembangan dunia sastra kita tergantung kepada redaktur budaya masing-masing media tersebut.
Jika mereka mampu mengolah halaman budayanya dengan baik -mampu menampilkan karya-karya terbaik dan berkualitas yang tidak tergantung kepada nama besar seorang sastrawan— maka hasil yang didapat juga baik. Namun, ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa nama besar seorang sastrawan sangat berpengaruh kepada media tersebut, apakah halaman budayanya dibaca orang atau tidak. Beberapa media menggunakan
prinsip ini.
Harian Kompas misalnya, meski satu-dua memuat karya-karya sastrawan muda, tetapi hampir setiap edisi budayanya yang terbit Ahad dan Bentara di setiap awal bulan, selalu diwarnai nama-nama yang sudah `bangkotan’. Dalam buku kumpulan cerpen terbaik yang selalu diterbitkan setiap tahun, juga hampir selalu memuat nama-nama itu ke itu yang kadang memunculkan pertanyaan dalam diri kita: apakah tak ada sastrawan muda (baca: tunas baru) yang mengirimkan karyanya ke media tersebut? Hal yang hampir sama juga terjadi di Horison, Koran
Tempo, Media Indonesia, Republika, Suara Pembaruan dan yang lainnya.
Namun, media-media tersebut lebih `arif’ karena banyak nama-nama muda yang belakangan mendapat tempat yang signifikan dari sekian banyak naskah sastra (cerpen, puisi maupun esei) yang masuk ke redaksi. Ini berbanding terbalik dengan media daerah, Riau Pos misalnya, setiap pekannya selalu mendapatkan kesulitan naskah yang bagus, baik dari
pengarang senior maupun muda.
Di luar persoalan tersebut, sastrawan harus tetap berkarya, dimuat atau tidak oleh media massa. “Dalam kondisi sekarang, saya kira kita tidak harus takut karya kita tidak dimuat oleh salah satu media. Banyak media yang membutuhkan karya sastra, dan inilah kesempatan kita untuk berkembang,” kata Fakhrunas MA Jabbar, salah seorang sastrawan Riau dalam diskusi Majelis Jumat yang bertema “Startegi Sastra Riau” yang diselenggarakan Yayasan Pusaka Riau di kampus
Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR), Jumat (3/12) lalu.
Fakhrunas menambahkan bahwa penulis-penulis muda Riau harus selalu berkarya, sabar dan selalu berusaha melahirkan karya yang baik dan berkualitas serta selalu membangun jaringan dengan dunia di luar Riau. Jika hal itu dilakukan terus-menerus, lama-lama media besar pasti akan mempertimbangkan dan memperhitungkannya untuk
dimuat. “Saya tidak memandang remeh media daerah, itu bagus untuk upaya latihan dan pencarian. Namun kalau ingin diperhitungkan secara nasional, kita memang harus berusaha bisa ke media Jakarta. Kita tidak usah bicara dikotomi pusat-daerah, sebab hingga sekarang media Jakarta memang masih menjadi barometer sastra kita,” jelas lelaki
yang kini bekerja sebuah perusahaan kertas ini.
Menurut Fakhrunas lagi, saat ini Riau memiliki bakat-bakat muda yang sebenarnya memiliki kapasitas untuk bisa bersaing di tingkat nasional. Setelah Abel Tasman, ada nama-nama seperti Marhalim Zaini, Oly Rinson, Pandapotan MT Siallagan, Sobirin Zaini, M Badri, Griven H Putra dan sekian nama lainnya, yang kalau terus mengasah diri, suatu saat nanti pasti diperhitungkan. “Pertanyaannya, apakah mereka pernah
mengirimkan karyanya ke media-media Jakarta?” ungkapnya lagi.
Dalam pada itu, Taufik Ikram Jamil berusaha mencarikan solusi
bagaimana supaya sastrawan-sastrawan muda Riau bisa diperhitungkan dalam bentara sastra nasional. Salah satunya, Taufik menawarkan sebuah program workshop penulisan karya sastra (cerpen, puisi dll) dengan mengundang sastrawan nasional, baik itu mereka yang berkutat di media sebagai redaktur budaya maupun sastrawan yang memang memiliki kapasitas (karya) yang diperhitungkan. “Ada dua hal yang
kita dapat dari program ini. Pertama, menggembleng anak-anak muda itu di bawah pengawasan mereka yang memang berkapasitas. Yang kedua, memperkenalkan mereka kepada sastrawan tersebut, paling tidak selama seminggu mereka saling bertemu bisa tukar pengalaman dan mereka harus belajar dari pengalaman mereka yang lebih dulu memiliki kapasitas tersebut,” jelas Taufik.
Program ini, menurut penulis kumpulan cerpen Sandiwara Hang Tuah ini, pernah dilakukan oleh beberapa daerah seperti Sumatera Barat dan Lampung. Hasilnya, dua daerah tersebut hingga hari ini, untuk Sumatera, telah melahirkan banyak sastrawan muda yang mulai mendapat tempat di khasanah sastra nasional. “Tetapi program ini harus benar-benar dimatangkan sebelum dilaksanakan, dan mereka yang akan ikut program ini juga harus benar-benar serius,” jelas Taufik lagi.
Selain itu, strategi jangka panjang yang dibicarakan adalah upaya melibatkan guru-guru Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah di Riau dalam diskusi-diskusi sastra agar pemahaman mereka tentang sastra menjadi lebih baik dan tidak hanya sebatas kurikulum. Dengan begitu, mereka diharapkan akan menjadi motivator bagi siswa-siswa dalam apresiasi sastra. Selain itu, melibatkan langsung siswa tersebut
dalam sebuah diskusi dan workshop, juga menjadi bagian yang
didiskusikan dan akan dicarikan jalan supaya terealisasi. “Saya rasa, kalau ide untuk guru dan siswa itu direalisasikan dan terus-menerus dibina, suatu saat nanti Riau akan memiliki banyak sastrawan bagus,” kata Fitri Mayani, salah seorang redaktur budaya di sebuah media di Pekanbaru.
Sependapat dengan Fitri, Fakhrunas menjelaskan bahwa program yang dibuat oleh Taufik Ismail dkk di Jakarta, yakni Siswa Bertanya Sastrawan Bicara (SBSB) yang berskala nasional, memang patut ditiru untuk skala Riau. “Program seperti ini memerlukan biaya tidak kecil. Tetapi saya yakin, tanpa biasa yang besar pun kita bisa melaksanakan asal ada kesungguhan,” jelasnya lagi.
Azmi Rozali Fatwa, salah seorang sastrawan Riau yang pernah hijrah ke Jakarta dan sekarang menjadi anggota DPRD Bengkalis, menyambut positif program-program yang didiskusikan tersebut sebagai sebuah `strategi’ untuk memajukan dunia sastra Riau. “Saya sendiri ingin program-program tersebut bisa terealiasi di Bengkalis. Saya
bermimpi, suatu saat Bengkalis memiliki banyak orang-orang yang memiliki apresiasi budaya (sastra), juga menjadi pelakunya,” jelas Azmi.
Selain Taufik, Fakhrunas, Fitri dan Azmi, hadir juga beberapa
sastrawan seperti Hang Kafrawi, Saukani Al Karim, Oly Rinson dan beberapa nama lainnya yang ikut memberikan sumbang saran dalam diskusi tersebut. “Semoga diskusi-diskusi seperti ini akan tetap berlanjut di masa datang. Selain menjadi ajang silaturahmi, juga tukar informasi,” kata Marhalim Zaini, koordinator Majelis Jumat.***

Tiada komentar »

Kritikus Sastra Riau, di Mana Persembunyianmu?

Oleh Hary B Kori’un

ADA anggapan bahwa dunia satra Riau mengalami stagnasi yang hebat saat ini. Krisis karya telah terjadi dan orang-orang yang selama ini bekerja untuk sastra, mulai pelan-pelan beralih ke dunia yang lain. Memang, penghargaan untuk mereka yang bergelut di bidang sastra di Riau, mendapat apresiasi lumayan besar dengan banyaknya penghargaan, mulai dari Anugerah Sagang (untuk beberapa kategori baik karya maupun personal), Anugerah Ganti (karya novel), Laman Sastra Dewan Kesenian Riau (untuk beberapa karya kreatif seperti cerpen, naskah drama, puisi dan lainnya) sampai Anugerah Seniman Perdana (SP) dan Seniman Pemangku Negri (SPN) yang secara materi sangat besar. Penghargaan-penghargaan itu membuat para sastrawan di luar Riau merasa iri. Mereka berpikir, orang-orang yang mendapatkan penghargaan itu adalah mereka yang sangat eksis di bidangnya, dan bisa melecut lahirnya para sastrawan (karya) baru yang secara kualitas akan lebih baik lagi. Lalu di mana peran kritikus?
Namun, karya berkualitas yang diharapkan lahir dari itu semua dan akan munculnya sastrawan yang memiliki keinginan untuk berkarya lebih baik lagi, tak juga muncul ke permukaan. Lihatlah, dari tahun ke tahun, mereka yang yang menelurkan karyanya hanya “itu ke itu” juga. Mereka yang secara personal maupun karya menjadi nominator Anugerah Sagang, juga tak jauh beda dari tahun-tahun sebelumnya. Para novelis yang karyanya masuk nominator Anugerah Ganti, juga nama-nama yang yang sudah familiar kecuali satu-dua yang baru. Laman Sastra DKR dari tahun ke tahun juga memunculkan karya dari mereka yang sudah lama eksis di bidang itu, dan secara kualitas juga tak terlalu signifikan peningkatannya.

Ketika Taufik Ikram Jamil dalam beberapa tahun belakangan tak terlihat karyanya muncul di media massa, banyak orang yang menyayangkan, terutama mereka yang masih ingin banyak belajar dari karya-karyanya. Sebab, selama ini, bersama Fakhrunas MA Jabbar –dan belakangan Marhalim Zaini—, Taufik adalah salah satu ikon penulis subur Riau yang mampu menembus belantara media nasional yang persaingannya memang amat ketat (meski belakangan terdengar santer tentang skandal redaktur budaya di koran Jakarta yang tidak obyektif dalam memilih karya yang akan dimuat di medianya). Memang, nama-nama seperti Olyrinson belakangan juga mampu melakukannya, namun intensitasnya masih belum sesubur para “senior”-nya itu. Bahkan, belakangan orang juga kesulitan mencari karya terbaru dari Syaukani Al Karim maupun Abel Tasman, baik di koran maupun dalam bentuk buku. Sementara senior yang lainnya hanya sesekali menulis, hanya sekedar mengambil absen agar “tidak dilupakan orang.”

Sementara itu, mereka yang lebih muda dari usia maupun pencapaian, juga masih belum mampu bersaing dan memperlihatkan jati dirinya. Pengalaman sebagai redaktur budaya di Riau Pos, membuat saya bisa melihat ritme dan perkembangan sastra di Riau, dari kaca mata media, dan khusus kaca mata Riau Pos. Rata-rata, mereka yang mengirimkan karyanya orangnya tak banyak berubah, dan kualitas karyanya juga belum mencapai avan-garde dan pantas dikedepankan. Banyak yang masih sekedar asal berkarya dan tidak berusaha mencari jati diri (meminjam istilah Hasan Junus) yang menjadi ciri khas dirinya.

Lalu, ke mana Murparsaulian, Hang Kafrawi, Griven H Putra, Syaukani, Gde Agung Lontar, Nyoto, M Badri, Pandapotan MT Siallagan, dan yang lainnya (sekedar menyebut nama) mempublikasikan karyanya? Yang lebih jauh lagi, mengapa, Mostamir Thalib, Sutrianto, Yose Rizal Zen, Wise Marwin dan yang lainnya tak lagi menyiarkan karyanya? Yang menarik, banyak mereka yang dulu sangat aktif bergelut di sastra, kini memilih menjadi pengusaha atau masuk partai dan tak berkarya lagi (hal sebaliknya justru terjadi pada Rida K Liamsi, yang semakin maniak bersastra ketika sukses menjadi pengusaha).

Memang, di tengah memadamnya api dari mereka yang dianggap senior itu, anak-anak muda seperti Sobirin Zaini, Ellyzan Katan, Aleila, Joni Lis Effendi, Syaiful Bahri, Muhalib, Fariz Iksan Putra dan yang lainnya masih terus berkarya dan bekerja keras untuk mencari identitas dirinya melalui karya, namun tetap karya mereka belum mampu menyusul para seniornya untuk manggung ke media yang lebih banyak pembacanya, yakni media nasional. Memang, dalam manifesto sastra pedalaman yang muncul di tahun awal 1990-an, media nasional dianggap tidak begitu penting dalam membangun eksistensi dunia sastra kita sebab bagi sastrawan, di manapun menyiarkan karya, dan apapun jenis medianya, tetap memperlihatkan eksistensinya sebagai pengarang. Tetapi, jelas, kita tidak bisa menutup mata bahwa sebuah karya yang dibaca oleh audiens yang lebih banyak dan luas, sangat berpengaruh pada eksistensi karya dan pengarangnya.

Komunitas dan Sanggar
Belakangan, perlawanan terhadap eksistensi media massa nasional sebagai “pembaptis” sastrawan, juga dilawan oleh mereka yang merasa eksis di media maya, seperti situs sastra atau malah mereka yang ramai menyiarkan karyanya di media yang lebih terbatas lagi seperti milis sastra. Milis Apresiasi-Sastra misalnya. Meski baru berusia muda, namun milis ini belakangan menjadi tempat diskusi dan publikasi para sastrawan dari berbagai genre, usia dan tempat tinggal yang menyebar di berbagai belahan dunia, dan banyak juga yang sudah sangat eksis di jagad sastra Indonesia. Sekedar menyebut nama JJ Kusni (tinggal di Paris), Ikranagara (Amerika Serikat), Sobron Aidit (Belanda), Labibah Zain (Montreal, Kanada), Sigit Susanto (Swiss), Mila Duchlum (Maladewa/Tanjung Pinang), Akmal Nasery Basral, Kurnia Effendi, Endah Sulwesi, Dino F Umahuk, Rahmat Ali, Ratih Kumala, Eka Kurniawan, Damhuri Muhamad, Sihar Ramses Simatupang (Jakarta), Lang Fang (Surabaya), Adi Toha, Henadi Tanzil (Bandung), Eko Sugiarto (Semarang), Hasan Asphahani (Batam), I Wayan Sunarta (Denpasar) Hary B Kori’un (penulis), Budy Utamy (Pekanbaru) dan sekian nama lainnya yang sangat aktif berdiskusi dan mempublikasikan karyanya, yang kemudian mendapat kritikan atau masukan dari yang lain.

Rata-rata dari mereka sudah banyak eksis, mampu menembus media massa nasional, dan memiliki buku karya baik kumpulan kumpulan cerpen, esai, puisi atau novel. Milis ini secara berkala juga membuat forum diskusi maya dengan membahas karya-karya pengarang seperti Umberto Eco, Karl May, Budi Darma, Goenawan Mohamad, Gabriel Garcia Marques, Federico Garcia Lorca dan sebagainya untuk menambah wawasan. Selain itu, secara berkala juga, milis ini mengadakan lomba mengarang, baik cerpen maupun puisi dan kemudian kerjasama dengan penerbit untuk diterbitkan menjadi buku. Salah satu buku yang sudah terbit adalah kumpulan cerpen Selasar Kenangan (Akoer, 2006).

Banyak milis sastra yang kini bermunculan dan menjadi tempat para sastrawan untuk mengasah kemampuan lewat diskusi dan sebagainya. Misalnya milis Penyair, Cybersastra, Kacangijo, Panggung, Gunung Merapi dan sebagainya. Mereka yang berkutat dengan sastra maya ini kebanyakan merasa nyaman karena mereka terbebas dari ribetnya berurusan dengan redaktur sastra media massa, dan mereka tetap berkarya dengan mendapat masukan dari peserta yang lain. Mereka tidak memperdulikan kualitas ketika dipublis, tetapi ketika karya-karya mereka akan dibuat dalam bentuk antologi, seleksi ketat tetap dilakukan untuk mendapatkan karya yang lebih baik.

Salah satu media untuk menyiarkan karya yang belakangan menjadi pilihan para pengarang (masih di jagad maya alias internet) adalah komunitas blog atau blogger. Blog ini lebih mirip website mini yang bisa dibuat sendiri oleh pemiliknya, tak harus membayar hosting sebagaimana website, dan dengan mudah bisa di-update kapan diinginkan. Para aktivis blog juga menganggap media ini selain menjadi alat publikasi karya yang paling mudah (tentu jika memiliki fasilitas jaringan internet) bagi aktualisasi diri, juga menjadi alat perlawanan terhadap media cetak yang dianggap menjadi pembaptis sastrawan. Namun, fasilitas blog ini tidak hanya populer di kalangan sastrawan, tetapi sudah menjadi hal yang umum karena baik atlet, selebritis, dan bahkan orang biasa sudah banyak yang memilikinya.

Di Riau berapa banyak sastrawan atau personal yang memanfaatkan blog dan milis sebagai sarana publikasi diri dan karya? Saya tak tahu persis, tetapi beberapa sastrawan seperti Fakhrunnas MA Jabbar dan M Badri sudah memilikinya.

Komunitas memang perlu dan menjadi tempat yang baik bagi para pengarang untuk mengasah kemampuan lewat diskusi, pembahasan sastra, tukar informasi dan sebagainya. Di Riau, memang tak banyak komunitas yang intens di situ. Memang beberapa komunitas dan sanggar seperti Forum Lingkar Pena (FLP), Paragraf, Sanggar Selembayung, Senapelan Writers Association (SWA) Latahtuah dan sebagainya, muncul. Tetapi sangat sedikit jumlahnya dibandingkan komunitas yang lahir di Padang, Lampung, Jakarta, Bandung atau Jogjakarta. Hal ini barangkali juga berpengaruhi tingkat kemunculan penulis muda, juga kualitas sastra.

Peran Kritikus
Lalu, adakah peran kritikus dalam perkembangan sastra Riau? Ini yang menjadi tanda tanya besar. Sejauh ini, peran kritikus tak terlihat dalam khasanah sastra Riau karena tidak banyak (jika tak mau disebut tidak ada) yang mau secara serius menjadi kritikus. Padahal, Riau memiliki tiga perguruan tinggi yang memiliki fakultas atau jurusan sastra, meski keguruan. Paling tidak, banyak sarjana sastra yang belajar sastra secara teoritik dan akademis yang memahami dan bisa menilai kualitas sebuah karya. Lalu, ke mana mereka bersembunyi?

Memang, secara berkala, ada satu-dua penulis yang menulis esai di media massa tetapi tidak serta-merta membahas karya secara mendalam sebagaimana kritikus. Mereka kebanyakan juga orang-orang yang menulis karya kreatif seperti cerpen dan puisi, yang tentu menulis esai hanya untuk mengasah kemampuan menulis dan bukan benar-benar ingin menjadi kritikus. Padahal, konon, Riau memiliki orang-orang yang punya kemampuan lebih dalam menilai karya sastra dengan teori akademis seperti Hasan Junus, UU Hamidy, Elmustian Rachman, Al Azhar, Hukmi, dan sekian orang dosen dan sarjana sastra yang setiap tahun dilahirkan oleh Unri, Unilak atau UIR.

Yang menarik, nama Maman S Mahayana belakangan malah melekat dengan sastra Riau, karena dosen satra di Universitas Indonesia yang tinggal di Depok ini sangat intens mengikuti dan mendalami satra Riau. Dalam Cakrawala Sastra Indonesia beberapa tahun lalu di Jakarta, Maman “disewa” oleh DKR untuk memberi pengantar kumpulan dan pembahasa kumpulan cerpen Riau, Pertemuan dalam Pipa, yang diadakan di Jakarta. Sayangnya, karya cerpen yang dipilih oleh DKR ketika itu tidak diambil dari sistem seleksi terbuka dan fair, tetapi mereka yang dipilih oleh DKR. Hal seperti ini sah-sah saja, tetapi mengingat banyak penulis cerpen yang ada di Riau, DKR terkesan pilih kasih dan subyektif.

Namun, di luar persoalan itu, tampilnya Maman sebagai orang yang dipilih untuk membahas, memberi kata pengantar dan mengkritisi karya pengarang Riau, seharusnya menjadi tamparan yang memilukan bagi dunia kritik sastra Riau. Sebab, di daerah yang memiliki sejarah sastra begitu gemilang, dunia kritik sastra Riau ternyata tidak hidup, padahal (sekali lagi) tidak sedikit sarjana dan kritikus yang sebenarnya dimiliki Riau.

Selain itu, Riau juga memiliki lembaga kajian bahasa dan sastra, yakni Balai Bahasa Pekanbaru, yang setiap hari tugasnya meneliti dan menelaah bahasa dan sastra di daerah ini dan mendapat dana cukup besar dai Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Namun, Balai Bahasa Pekanbaru ternyata masih belum memiliki peran berarti dalam kemajuan dunia kebahasaan dan sastra Riau secara umum. Hasil kajian, telaah dan penelitian oleh Balai Bahasa Pekanbaru hanya tersimpan berdebu di perpustakaan atau malah dalam tumpukan kertas apak, karena tidak dipublikasikan kepada khalayak.

Suatu ketika, saat berdiskusi bersama Olyrinson, Budy Utamy dan Marhalim Zaini, saya melontarkan ide: terus berkarya tanpa mempedulikan ada atau tidaknya kritikus sastra. Dan hampir senada mereka menjawab: “Kritikus ada karena ada karya, jadi benar, kita harus terus berkarya dan terus mempublikasikan. Kita berkarya untuk diri kita sendiri dan untuk dibaca oleh masyarakat, dan bukan untuk kritikus atau untuk disimpan di rak-rak apak yang tak terjamah oleh manusia…”

Kritikus sastra Riau, di mana persembunyianmu? Bantulah sastra Riau agar bisa berkembang lebih signifikan lagi.***

Hary B Kori’un adalah wartawan dan penulis novel. Tinggal di Pekanbaru

Sumber: Riau Pos, Minggu, 26 Nopember 2006

Tiada komentar »